Tokoh Nasional asal NTT Erles Rareral, SH, MH, Ajak Warga Indonesia Jadi Ayah-Ibu Angkat Anak NTT

Tokoh Nasional asal NTT Erles Rareral, SH, MH, Ajak Warga Indonesia Jadi Ayah-Ibu Angkat Anak NTT
Tokoh nasional asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Erles Rareral, SH, MH,


Jakarta,(Beritantb.com) - Tokoh nasional asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Erles Rareral, SH, MH, menyerukan gerakan besar kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk ikut mengambil peran nyata dalam menyelamatkan masa depan generasi muda di wilayah timur Indonesia yang hingga kini masih tertinggal dalam akses pendidikan, ekonomi, dan kesejahteraan.


Dalam pernyataannya, Erles mengajak masyarakat dari berbagai daerah untuk menjadi ayah dan ibu angkat bagi anak-anak NTT yang hidup dalam keterbatasan dan minim dukungan.


“NTT memiliki anak-anak hebat, tetapi banyak dari mereka tertahan oleh kemiskinan struktural dan kurangnya akses pendidikan. Ini bukan hanya masalah daerah, ini tanggung jawab kita sebagai bangsa,” tegas Erles pada keterangan resminya Rabu,(06/02/2026).


Gerakan Nasional Kepedulian


Erles menilai keterlibatan masyarakat luas melalui pola orang tua angkat dapat menjadi langkah konkret untuk memutus rantai ketertinggalan yang selama ini membelit banyak wilayah di NTT.



Ia menekankan bahwa kepedulian tidak selalu harus berbentuk bantuan besar, namun bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti, dukungan biaya sekolah, pendampingan moral dan psikologis, bantuan kebutuhan dasar, hingga membuka akses peluang masa depan.


“Jika satu keluarga di Jawa, Sumatera, Kalimantan, atau Sulawesi mengangkat satu anak NTT, bayangkan berapa ribu masa depan bisa diselamatkan,” ujarnya.


Bukan Kekurangan Anak Cerdas, Tapi Kekurangan Kesempatan


Menurut Erles, persoalan utama di NTT bukan pada kemampuan anak-anaknya, melainkan pada kesempatan yang belum merata.


Ia menyebut masih banyak anak-anak di pelosok NTT harus berjalan jauh untuk bersekolah, menghadapi kekurangan gizi, bahkan terpaksa putus sekolah karena keterbatasan ekonomi keluarga.


“Kita sering bicara Indonesia Emas 2045, tapi bagaimana mungkin kita mencapainya jika anak-anak NTT masih tertinggal jauh dari akses dasar,” katanya.


Tragedi Kemiskinan Yang Masih Terjadi


Ajakan Erles menguat setelah muncul kabar memilukan dari Kabupaten Ngada, NTT, di mana seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun ditemukan meninggal dalam situasi yang diduga berkaitan dengan tekanan hidup dan keterbatasan ekonomi.


Anak tersebut diketahui hidup bersama neneknya dalam kondisi sangat sederhana, di sebuah pondok kecil di kebun terpencil.


Peristiwa ini menjadi alarm keras bahwa kemiskinan ekstrem dan ketimpangan akses pendidikan masih nyata terjadi, bahkan berdampak tragis pada anak-anak.


Dorongan Kolaborasi Negara dan Masyarakat


Erles menegaskan bahwa gerakan ayah-ibu angkat ini tidak boleh berhenti sebagai wacana sosial semata, melainkan harus disinergikan dengan pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh agama, serta organisasi kemanusiaan.


Ia berharap gerakan ini menjadi simbol bahwa Indonesia benar-benar satu, dari Sabang sampai Merauke.


“NTT adalah bagian sah dari masa depan Indonesia. Anak-anak NTT bukan anak daerah, mereka adalah anak bangsa,” pungkasnya.


Erles, yang juga dikenal sebagai pengacara di Ibu Kota, mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak tinggal diam dan mengambil bagian nyata dalam menyikapi tragedi ini.


“Ini bukan sekadar kabar duka dari daerah. Ini tragedi kemanusiaan yang harus dihentikan bersama. Negara dan masyarakat wajib hadir sebelum lebih banyak anak kehilangan masa depannya,” tutupnya.(Red).




Iklan