![]() |
| Dalam program Museum Talk edisi 6 Maret 2026, Kepala Museum Provinsi NTB Ahmad Nuralam berbincang dengan Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) NTB sekaligus Ketua Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) Korwil NTB, Lalu Kusnawan |
Mataram,(Beritantb.com) - Saat suasana tenang di ruang Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, percakapan tentang masa depan kebudayaan berlangsung dengan hangat.
Dalam program Museum Talk edisi 6 Maret 2026, Kepala Museum Provinsi NTB Ahmad Nuralam berbincang dengan Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) NTB sekaligus Ketua Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) Korwil NTB, Lalu Kusnawan.
Di kutip dari halaman Ceraken.id, Percakapan itu bukan sekadar nostalgia terhadap benda pusaka bernama keris, tetapi juga sebuah refleksi tentang bagaimana warisan budaya dapat bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi kreatif.
Keris bagi masyarakat Nusantara bukan sekadar senjata. Ia adalah simbol, identitas, dan jejak sejarah panjang peradaban.
Dalam perjalanan waktu, maknanya terus berkembang. Di masa lalu, keris menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan laki-laki dewasa dalam berbagai prosesi adat.
Namun kini, keris tidak lagi dipandang semata sebagai pusaka atau simbol spiritual, melainkan juga sebagai artefak budaya yang memiliki potensi besar dalam mendorong ekonomi kreatif.
Pengakuan dunia terhadap keris sebagai warisan budaya takbenda semakin memperkuat posisi tersebut. Pada tahun 2005, UNESCO menetapkan keris sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity.
Pengakuan itu menegaskan bahwa keris tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi peradaban dunia.
Dalam percakapan Museum Talk itu,Ahmad Nuralam membuka diskusi dengan sebuah kisah menarik dari pengalaman internasional. Ia menceritakan bagaimana Museum NTB pernah membawa dua keris Lombok, keris Togokan dan keris Geranting, ke sebuah pameran seni Islam di Jeddah.
Pameran tersebut adalah Islamic Arts Biennale, sebuah ajang seni internasional yang mempertemukan karya-karya budaya dari berbagai negara.
Ketika keris Lombok dipamerkan di sana, seorang pengunjung yang kebetulan mantan redaktur media nasional Indonesia merasa terkejut. Ia tidak menyangka bahwa keris dari Lombok hadir di panggung internasional.
Lebih mengejutkan lagi, keris tersebut tercantum sebagai koleksi Museum Negeri Nusa Tenggara Barat. Pengunjung itu mengagumi keindahan bentuk, kehalusan ukiran, serta aura artistik yang terpancar dari keris tersebut.
Peristiwa sederhana itu menjadi pengingat bahwa benda budaya sering kali memiliki daya tarik global yang belum sepenuhnya disadari oleh masyarakat pemiliknya sendiri.
Keris di Masa Pandemi
Cerita lain yang disampaikan Lalu Kusnawan justru berasal dari masa paling sulit dalam sejarah modern: pandemi Covid-19. Ketika sektor pariwisata lumpuh dan banyak usaha berhenti beroperasi, justru komunitas perkerisan tetap bergerak.
Ia mengingat bagaimana pada masa lockdown aktivitas ekonomi hampir berhenti total. Hotel-hotel kosong, penerbangan dibatasi, dan industri wisata nyaris tak bernapas.
Namun di tengah situasi itu, komunitas pecinta keris tetap melakukan aktivitas ekonomi. Keris, bilahnya, warangkanya, hingga berbagai aksesori sandangannya tetap diperjualbelikan.
Transaksi tidak selalu menggunakan uang tunai. Ada yang menggunakan sistem barter, ada yang menambahkan sejumlah uang sebagai selisih nilai. Meski sederhana, aktivitas tersebut membuktikan bahwa keris memiliki ekosistem ekonomi yang hidup.
Bagi Kusnawan, fenomena itu memantik rasa ingin tahu. Ia melihat bahwa keris bukan sekadar artefak budaya, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang nyata. Dari situlah ia mulai menekuni dunia perkerisan secara lebih serius.
Ketertarikan tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan untuk menghubungkan keris dengan sektor pariwisata. Sebagai seorang pelaku industri perhotelan di kawasan wisata Gili Trawangan, Kusnawan memahami bahwa wisatawan modern tidak hanya mencari pemandangan alam, tetapi juga pengalaman budaya.
Pada tahun 2021, ketika pandemi mulai mereda, ia mengajak komunitas perkerisan menggelar pameran kecil di Gili Trawangan. Tidak ada sponsor besar, tidak ada dukungan dana signifikan.
Hotel hanya menyediakan tempat, sementara para peserta menanggung biaya transportasi dan akomodasi sendiri.
Namun semangat mereka luar biasa. Walau pengunjung tidak banyak karena wisatawan masih minim, pameran itu menjadi langkah awal yang penting.
Ia menjadi bukti bahwa komunitas budaya dapat bergerak secara mandiri untuk mempertahankan tradisi sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Keris Lombok di Ajang MotoGP
Perjalanan keris Lombok menuju panggung dunia mencapai salah satu momen penting ketika Kusnawan bertemu dengan Fadli Zon. Dalam pertemuan itu, Kusnawan menyampaikan gagasannya tentang mempromosikan keris melalui ajang internasional.
Respon Fadli Zon cukup sederhana namun menantang: mengapa tidak menjadikan keris sebagai cendera mata dalam ajang balap dunia MotoGP di Mandalika?
Gagasan itu terdengar sederhana, tetapi pelaksanaannya sangat rumit. Standar protokol internasional dalam event olahraga global sangat ketat. Tidak semua bentuk cendera mata dapat diterima oleh penyelenggara.
Apalagi keris sering kali dipersepsikan sebagai senjata tajam.
Namun tantangan tersebut justru menjadi motivasi. Bersama para pengrajin Lombok, Kusnawan menyiapkan tiga keris istimewa untuk diserahkan kepada para pemenang MotoGP Mandalika 2023. Keris itu dibuat sepenuhnya oleh pengrajin lokal.
Empu pembuat bilah berasal dari Lombok. Perajin warangka atau sarung keris juga berasal dari Lombok. Seniman tatah logam, pembuat pegangan, hingga pengrajin perak semuanya adalah putra daerah.
Seluruh proses produksi itu menjadi bukti bahwa NTB memiliki kemampuan lengkap dalam industri kerajinan keris.
Namun tantangan berikutnya adalah mendapatkan izin resmi. Pihak penyelenggara meminta dokumen resmi negara yang menjelaskan bahwa keris bukan sekadar senjata, tetapi warisan budaya yang diakui dunia.
Untuk itu Kusnawan mendaftarkan karya tersebut melalui Hak Kekayaan Intelektual.
Langkah tersebut akhirnya menjadi solusi. Dengan dokumen resmi dan pengakuan budaya yang jelas, keris Lombok dapat diserahkan kepada para juara MotoGP.
Penyerahan itu bahkan dilakukan oleh tokoh-tokoh penting nasional, termasuk Erick Thohir dan Sandiaga Uno.
Meskipun dilakukan tanpa pidato resmi karena aturan sponsor yang ketat, momen itu tetap menjadi kebanggaan besar bagi komunitas perkerisan NTB.
Ekosistem Kerajinan Keris
Dalam diskusi Museum Talk, Kusnawan juga menjelaskan bahwa keris sebenarnya merupakan hasil kolaborasi berbagai profesi seni.
Seorang empu bertugas menempa bilah keris. Meranggi bertugas membuat warangka atau sarung keris dari kayu pilihan.
Seniman tatah logam membuat ornamen logam yang menghiasi sarung dan pegangan. Sementara pengrajin lain membuat cincin, ukiran, serta berbagai aksesorinya.
Setiap bagian memiliki keahlian tersendiri yang diwariskan turun-temurun.
Salah satu bahan favorit untuk warangka adalah kayu timoho, yang dalam bahasa Sasak dikenal sebagai kayu berore. Kayu ini memiliki pola alami yang unik, menyerupai motif batik.
Tidak semua pohon memiliki pola tersebut, sehingga keberadaannya cukup langka dan bernilai tinggi.
Keindahan alami kayu ini membuatnya menjadi pilihan utama bagi kolektor keris.
Bahkan dalam beberapa catatan sejarah disebutkan bahwa kayu timoho dari Lombok pernah menjadi bahan favorit bagi para bangsawan pada masa lalu.
Sertifikasi dan Perlindungan Profesi
Dalam upaya menjaga keberlanjutan industri keris, komunitas perkerisan juga membentuk lembaga sertifikasi profesi. Lembaga ini bertujuan memastikan bahwa para pelaku seni keris memiliki standar kompetensi yang jelas.
Sertifikasi tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari empu, meranggi, kurator keris, hingga ahli perawatan dan pewarangan.
Langkah ini penting karena selama ini banyak pengrajin bekerja tanpa pengakuan formal terhadap keahlian mereka.
Melalui sertifikasi profesi yang berada di bawah pengawasan Badan Nasional Sertifikasi Profesi, para pelaku seni diharapkan mendapatkan perlindungan dan pengakuan yang lebih baik.
Selain meningkatkan kualitas kerja, sertifikasi juga membuka peluang bagi pengrajin untuk memasuki pasar yang lebih luas.
Pariwisata Berbasis Kebudayaan
Dalam diskusi tersebut, Ahmad Nuralam menegaskan bahwa museum memiliki tiga fungsi utama: sebagai penjaga identitas budaya, sebagai ruang pendidikan antar generasi, dan sebagai penggerak ekonomi kreatif.
Keris menjadi contoh konkret bagaimana ketiga fungsi tersebut dapat berjalan bersamaan.
Di sektor pariwisata, keris memiliki potensi besar sebagai pengalaman budaya. Wisatawan tidak hanya melihat keris sebagai benda pameran, tetapi juga dapat menyaksikan proses pembuatannya.
Mereka dapat melihat empu menempa besi, meranggi mengukir kayu, atau seniman menatah logam secara manual. Bahkan wisatawan dapat mencoba memukul palu atau memahat kayu sebagai bagian dari pengalaman budaya.
Pengalaman semacam itu memiliki nilai yang sangat tinggi dalam industri wisata modern.
Wisatawan masa kini mencari sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak dapat mereka temukan di negara asal mereka. Mereka mencari pengalaman unik yang hanya dapat dirasakan sekali dalam hidup.
Dalam konteks itulah keris memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata.
Tantangan Regenerasi
Meski memiliki potensi besar, dunia perkerisan juga menghadapi tantangan serius: regenerasi.
Jumlah empu dan pengrajin muda semakin sedikit. Banyak generasi muda yang tidak tertarik melanjutkan profesi ini karena dianggap kurang menjanjikan secara ekonomi.
Padahal keris adalah bagian penting dari identitas budaya Nusantara.
Jika tidak ada upaya serius untuk mendukung para pengrajin, bukan tidak mungkin keahlian tersebut akan hilang dalam beberapa generasi.
Kusnawan mencontohkan bagaimana para seniman tradisional sering kali tidak mendapatkan penghargaan yang layak. Sebuah kelompok kesenian bisa tampil dengan puluhan anggota, tetapi honor yang diterima sangat kecil jika dibagi rata.
Situasi ini membuat profesi seni tradisional menjadi kurang menarik bagi generasi muda.
Kebudayaan sebagai Masa Depan
Diskusi dalam Museum Talk itu akhirnya bermuara pada satu kesimpulan penting: masa depan pariwisata Nusa Tenggara Barat terletak pada kebudayaan.
Alam Lombok dan Sumbawa memang indah, tetapi keunikan budaya adalah sesuatu yang tidak dapat ditiru oleh daerah lain.
Keris, tenun, musik tradisional, hingga ritual adat merupakan aset yang sangat berharga.
Jika dikelola dengan baik, aset tersebut dapat menjadi penggerak ekonomi yang kuat bagi masyarakat lokal.
Museum, pemerintah daerah, komunitas budaya, dan pelaku pariwisata perlu bekerja bersama untuk mewujudkan hal tersebut.
Percakapan di Museum Negeri NTB itu mengingatkan bahwa kebudayaan bukanlah benda mati yang hanya disimpan di lemari kaca. Ia adalah energi hidup yang dapat menggerakkan masyarakat.
Keris adalah contoh nyata bagaimana warisan leluhur dapat menemukan makna baru di zaman modern.
Dari pusaka kerajaan hingga cendera mata MotoGP, dari benda ritual hingga produk ekonomi kreatif, keris telah menempuh perjalanan panjang dalam sejarah Nusantara.
Di tangan generasi masa kini, keris tidak hanya menjaga ingatan masa lalu, tetapi juga membuka jalan menuju masa depan ekonomi berbasis budaya. (*)
