Tercatat Sebanyak 985 Kasus Campak di NTB, Ada Tiga Daerah Berstatus KLB Campak

Tercatat Sebanyak 985 Kasus Campak di NTB, Ada Tiga Daerah Berstatus KLB Campak
Ilustrasi Anak yang terkena penyakit Campak 


Mataram,(Beritantb.com) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui Dinas Kesehatan melaporkan situasi terkini Kejadian Luar Biasa (KLB) suspek campak yang terjadi di wilayah Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Kabupaten Dompu


Berdasarkan data hingga Minggu ke-7 tahun 2026, tercatat total 985 kasus suspek campak di Provinsi NTB yang seluruhnya berasal dari tiga kabupaten/kota yaitu Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Kabupaten Dompu. 


Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM., MARS menyampaikan bahwa peningkatan kasus dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain masih adanya kelompok anak yang belum mendapatkan imunisasi campak-rubela (MR) lengkap. 


Fluktuasi cakupan imunisasi rutin yang belum optimal dalam beberapa tahun terakhir juga membuka akumulasi populasi rentan. 


Selain itu tingginya mobilitas penduduk pada akhir dan awal tahun, keterlambatan deteksi dan respons awal, serta faktor lingkungan dan perilaku menjadi penyebab peningkatan kasus. 


"Kasus didominasi oleh anak usia di bawah 5 tahun, dengan sebagian besar kasus terjadi pada anak dengan status imunisasi tidak lengkap atau belum pernah diimunisasi", ungkapnya melalui siaran persnya pada Selasa ,(17/3/2026).


Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya cakupan imunisasi menjadi faktor risiko utama terjadinya KLB. 


"Pemerintah Provinsi NTB bersama pemerintah kabupaten/kota telah mengambil langkah dengan melakukan penguatan surveilans aktif dan pelacakan kontak di tingkat desa dan puskesmas, pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) pada seluruh Puksesmas di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu, dengan prioritas ORI diberikan bagi bayi dan balita berusia 9 sampai dengan 59 bulan", ujarnya.


Fikri menjelaskan bahwa Langkah penanganan dilakukan dengan pemberian vitamin A pada kasus campak untuk mencegah komplikasi dan menurunkan risiko kematian, penguatan edukasi masyarakat mengenai gejala campak, pentingnya imunisasi lengkap, dan segera berobat ke fasilitas kesehatan.


"Apabila muncul gejala demam disertai batuk/pilek dan ruam, menjamin ketersediaan logistik KLB, termasuk vaksin, vitamin A, serta dukungan tata laksana klinis di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes), termasuk penguatan triase isolasi campak di fasyankes yang fokus pada pemisahan cepat suspek (demam, ruam, batuk/pilek) di IGD/rawat jalan, penyediaan area isolasi khusus (infeksius/pediatri), serta penanganan segera pasien dengan komplikasi (sesak/diare/sulit makan) untuk mencegah penularan intensif, terutama saat lonjakan kasus/KLB", katanya.

   


Pemerintah Provinsi NTB terus melakukan monitoring dan evaluasi berkala hingga situasi dinyatakan terkendali. 


"Masyarakat diimbau tetap tenang namun waspada, serta berperan aktif dalam memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal guna memutus rantai penularan campak", tutupnya.(Red).







Iklan