![]() |
| Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM.MARS |
Mataram,(Beritantb.com) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus menunjukkan komitmen serius dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Melalui Dinas Kesehatan Provinsi NTB, sejumlah program strategis mulai dari percepatan penurunan stunting, penguatan skrining penyakit melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG), hingga penanganan TBC kini menjadi prioritas utama di tahun 2026.
Kabar menggembirakan datang dari evaluasi tingkat pusat pada Triwulan I-2026. Angka prevalensi stunting di NTB tercatat turun signifikan menjadi 12,88 persen, angka yang jauh lebih baik dibandingkan target yang ditetapkan sebesar 17,5 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM.MARS menjelaskan bahwa keberhasilan ini tak lepas dari intervensi yang dilakukan secara konsisten melalui dua jalur utama: intervensi spesifik (langsung) dan sensitif (tidak langsung).
"Intervensi langsung di sektor kesehatan memiliki daya ungkit 30 persen, yang fokus pada imunisasi, pemberian ASI eksklusif, dan pola asuh. Namun, kunci utamanya juga ada pada intervensi tidak langsung yang menyumbang 70 persen daya ungkit, seperti akses air bersih, sanitasi layak, lingkungan sehat, hingga penanganan kemiskinan," ungkapnya saat ditemui tim di ruang kerjanya, Selasa (05/05/2026).
Dinas Kesehatan juga mengandalkan program Desa Berdaya sebagai ujung tombak. Di sana, dilakukan monitoring ketat pada 10 desa per kabupaten/kota, pemberian telur bagi balita, hingga dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tantangan Lingkungan dan Pola Makan
Meski angka menurun, tantangan besar masih membayangi, terutama terkait asupan nutrisi dan pengaruh lingkungan. Kadinkes menyoroti fenomena makanan siap saji yang membuat standar kebutuhan gizi balita seringkali tidak terpenuhi.
"Terkait asupan, tantangan kita adalah memastikan seluruh balita bermasalah gizi mendapatkan pendampingan pemenuhan gizi yang tepat. Edukasi lingkungan sehat terus kami masifkan agar masyarakat tidak hanya bergantung pada makanan instan," tambahnya.
Cek Kesehatan Gratis (CKG): Hak Setiap Warga
Sebagai bagian dari Program Hasil Tercepat Presiden yang dimulai sejak Maret 2025, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) kini tengah digenjot di seluruh pelosok NTB. Pada tahun 2026, ditargetkan sebanyak 2,663 juta jiwa atau 46 persen dari total penduduk NTB harus mendapatkan layanan skrining ini.
Sasaran CKG sangat luas, mulai dari bayi hingga lansia. Masyarakat dapat mengakses layanan ini di Puskesmas, Pustu, Posyandu, hingga melalui layanan komunitas di berbagai acara (event) besar di NTB.
"CKG adalah upaya skrining untuk mendeteksi faktor risiko penyakit sejak dini. Ini adalah hak setiap masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan gratis di seluruh faskes. Seluruh data pasien akan terekam secara digital melalui aplikasi Satusehat Indonesia," jelas Kadinkes.
Perang Melawan TBC: Menuju 100 Persen Bebas Kasus
Selain stunting dan CKG, penanganan Tuberkulosis (TBC) juga menjadi sorotan. Pada tahun 2025, penemuan kasus baru mencapai 61 persen dari target 90 persen. Meskipun layanan pengobatan di faskes sudah maksimal, kendala utama terletak pada pengawasan minum obat yang sering terputus.
Dinas Kesehatan memperkenalkan strategi "Terapi Pencegahan" yang wajib diikuti oleh anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TBC.
"Faktanya, anggota keluarga yang merasa sehat seringkali enggan minum obat pencegahan. Padahal itu wajib. Kami mendorong peran aktif masyarakat melalui 40 Desa Berdaya Siaga TBC sebagai program unggulan. Harapan kita, 40 desa ini bisa 100 persen bebas TBC ke depannya," tegas Kadinkes.
Terdapat Tiga Pilar Penanganan TBC di NTB. Pertama, Penemuan Kasus: Meningkatkan skrining aktif di masyarakat. Kedua, Pengobatan: Memastikan pelayanan maksimal begitu pasien terdiagnosa. Ketiga, Terapi Pencegahan: Melindungi orang sehat yang berisiko tertular di keluarga dan lingkungan sekitar.
Dengan sinergi antara program nasional dan inovasi lokal seperti Desa Berdaya, Dinas Kesehatan Provinsi NTB optimis dapat menciptakan masyarakat yang lebih sehat, mandiri, dan bebas dari ancaman penyakit kronis maupun masalah gizi kronis. (Kmf)
