![]() |
| Suaeb Qury, M.Ag. |
Oleh: Suaeb Qury, M.Ag.
(Wakil Sekretaris PW NU NTB)
Mataram,(Beritantb.com) - Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif, Ploso, Jawa Timur, menjadi momentum penting dalam perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia. Selain membahas berbagai persoalan keagamaan, kebangsaan, dan kemasyarakatan, forum ini juga menjadi bagian dari konsolidasi menuju Muktamar ke-35 NU yang akan menentukan arah organisasi lima tahun ke depan.
Salah satu hasil yang paling dinantikan dari Munas dan Konbes adalah pembahasan terkait waktu dan lokasi penyelenggaraan Muktamar ke-35. Forum ini tidak hanya melahirkan berbagai rekomendasi strategis mengenai persoalan bangsa, tetapi juga membahas isu-isu internal organisasi, seperti penguatan struktur kepengurusan, tata kelola organisasi, hingga pengaturan rangkap jabatan agar roda organisasi berjalan lebih efektif dan profesional.
Di tengah proses tersebut, muncul satu pertanyaan yang menarik: mungkinkah Nusa Tenggara Barat (NTB) dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama ?Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, NTB menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam pembangunan infrastruktur, penyediaan fasilitas publik, serta pengalaman sebagai penyelenggara berbagai kegiatan berskala nasional maupun internasional. Modal tersebut menjadi nilai penting dalam mendukung pelaksanaan Muktamar yang diperkirakan akan dihadiri puluhan ribu peserta dari seluruh Indonesia.
Untuk menjadi tuan rumah Muktamar NU, sebuah daerah harus memenuhi sejumlah standar yang telah menjadi kebutuhan dasar penyelenggaraan kegiatan besar. Setidaknya terdapat empat aspek utama yang menjadi pertimbangan.
Pertama, ketersediaan tempat penyelenggaraan acara pembukaan dan persidangan. Muktamar membutuhkan lokasi yang mampu menampung peserta dalam jumlah besar, baik untuk pembukaan maupun pelaksanaan sidang-sidang organisasi. Tempat tersebut harus didukung fasilitas yang memadai, akses yang mudah, serta mampu menjamin kelancaran seluruh rangkaian kegiatan.
Kedua, dukungan infrastruktur jalan dan kelancaran lalu lintas. Mobilitas peserta menjadi faktor penting dalam penyelenggaraan Muktamar. Karena itu, akses menuju lokasi kegiatan, kondisi jalan, serta manajemen lalu lintas harus dipersiapkan dengan baik agar kegiatan berlangsung lancar dan nyaman.
Ketiga, ketersediaan penginapan yang memadai. Sebagai daerah tujuan wisata nasional, NTB memiliki kapasitas akomodasi yang cukup baik. Berbagai hotel berbintang, penginapan, asrama, hingga jaringan pondok pesantren dapat menjadi bagian dari dukungan akomodasi bagi peserta yang datang dari berbagai daerah.
Keempat, dukungan transportasi, sanitasi, dan kebersihan lingkungan. Muktamar memerlukan sistem transportasi yang terintegrasi, fasilitas sanitasi yang memadai, serta pengelolaan kebersihan yang baik. Ketiga aspek ini menjadi bagian penting dalam menciptakan kenyamanan dan keamanan peserta selama kegiatan berlangsung.
Melihat indikator tersebut, NTB memiliki peluang yang cukup besar. Selain sarana dan prasarana yang terus berkembang, daerah yang dikenal sebagai Bumi Gora ini juga memiliki basis warga Nahdliyin yang kuat serta jaringan pesantren yang berkembang pesat. Posisi NTB di kawasan Indonesia Timur juga dapat menjadi simbol pemerataan khidmah Nahdlatul Ulama dan penguatan peran organisasi di berbagai daerah.
Bagi warga Nahdliyin NTB, peluang menjadi tuan rumah Muktamar bukan sekadar persoalan prestise. Lebih dari itu, momentum tersebut merupakan kesempatan strategis untuk memperluas syiar Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, memperkuat jejaring pendidikan pesantren, serta mempererat hubungan antarwarga NU dari seluruh penjuru Nusantara.
Dari sisi ekonomi, penyelenggaraan Muktamar juga diyakini akan memberikan dampak yang signifikan. Kehadiran ribuan peserta akan menggerakkan sektor perhotelan, transportasi, kuliner, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta berbagai sektor jasa lainnya. Perputaran ekonomi yang tercipta akan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal.
Optimisme tersebut semakin menguat karena adanya dukungan dari berbagai elemen daerah, mulai dari pemerintah daerah, kalangan pesantren, perguruan tinggi, badan otonom NU, hingga masyarakat Nahdliyin. Sinergi dan kolaborasi seluruh komponen ini menjadi modal penting untuk menghadirkan penyelenggaraan Muktamar yang aman, nyaman, dan sukses.
Munas dan Konbes NU di Ploso pada akhirnya tidak hanya menjadi forum perumusan kebijakan organisasi, tetapi juga menjadi titik awal konsolidasi menuju Muktamar ke-35. Dari forum inilah berbagai aspirasi daerah akan mengemuka, termasuk harapan besar agar NTB memperoleh amanah sebagai tuan rumah.
Jika kepercayaan itu diberikan, NTB tidak hanya akan menjadi lokasi penyelenggaraan Muktamar, tetapi juga simbol penguatan peran Nahdlatul Ulama di kawasan Indonesia Timur. Lebih jauh, hal tersebut akan menjadi bukti bahwa semangat perjuangan dan khidmah NU terus tumbuh, berkembang, dan menjangkau seluruh pelosok Nusantara dalam upaya menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara.
