![]() |
| Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) NTB, H. Edy Sopyan |
Mataram,(Beritantb.com) - Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) NTB, H. Edy Sopyan mengungkapkan tingginya minat masyarakat NTB menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) disebabkan oleh dua faktor.
Pertama keterbatasan lapangan pekerjaan di daerah atau di dalam negeri. Kedua gaji yang ditawarkan lebih tinggi dibandingkan dengan gaji di dalam negeri.
Berdasarkan data ketenagakerjaan, Provinsi NTB saat ini menduduki peringkat ke-4 secara nasional sebagai penyuplai PMI terbesar di Indonesia.
Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 35.215 orang PMI telah diberangkatkan. Sementara untuk tahun buku 2026 ini, estimasi pemberangkatan diproyeksikan tetap stabil di angka sekitar 30.000 orang.
"Penyebab tingginya minat masyarakat NTB untuk menjadi PMI di sebabkan oleh keterbatasan lapangan pekerjaan di daerah, serta gajinya lebih tinggi di bandingkan dengan gaji di daerah atau di dalam negeri", ungkapnya Ketua APJATI NTB, H. Edy Sopyan saat di konfirmasi oleh media pada Rabu,(03/06/2026).
Menurutnya, masyarakat NTB yang berangkat menjadi Pekerjaan Migran Indonesia kebanyakan beralasan karena terpaksa, demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
"Mereka harus berpisah dengan istri dan anak serta keluarga bertahun-tahun demi mendapatkan penghasilan yang layak. Jadi tujuan utama mereka menjadi PMI adalah untuk mencari penghasilan yang lebih baik", ujar Direktur Utama PT Cipta Rezeki Utama itu.
Ia menghimbau agar masyarakat NTB yang ingin menjadi PMI untuk mengikuti prosedur yang resmi dan tidak tergiur dengan tawaran yang menjanjikan keuntungan besar namun dengan cara yang illegal. Karena ketika sudah memasuki jalur illegal banyak kasus yang sudah terjadi dan itu merugikan diri sendiri.
Bagi masyarakat NTB yang Ingin jadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) bisa melalui agen resmi seperti Perusahaan PT Cipta Rezeki Utama yang beralamat di Kantor Pusat: Jl. Adi Sucipto No. 9, Ampenan Utara, Kota Mataram, NTB, dan Kantor Cabang di Bima.(Red).
