| Organisasi internasional asal Swiss, Global Community Engagement and Resilience Fund (GCERF), melakukan kunjungan ke Komunitas Sila Archery Society (SAS) di Kabupaten Bima, Jumat (12/6/2026). |
Bima, BeritaNTB.com – Organisasi internasional asal Swiss, Global Community Engagement and Resilience Fund (GCERF), melakukan kunjungan ke Komunitas Sila Archery Society (SAS) di Kabupaten Bima, Jumat (12/6/2026).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap program rekonsiliasi dan reintegrasi sosial bagi komunitas dampingan.
Kegiatan ini terlaksana melalui kerja sama dengan sejumlah lembaga lokal serta mendapat dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Densus 88 Antiteror.
Ketua Komunitas SAS, Fedo, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada GCERF, Nurani Perdamaian Indonesia (NPI), dan LPA NTB atas kunjungan serta kebersamaan yang terjalin bersama keluarga besar SAS.
“Terima kasih atas perhatian, dukungan, serta berbagai pengetahuan yang telah dibagikan kepada keluarga besar SAS,” ujarnya.
Menurut Fedo, kehadiran para mitra tersebut bukan sekadar menjalankan program, tetapi juga turut memberdayakan komunitas, memperluas jaringan pertemanan, dan mempererat tali persaudaraan.
“Kami berharap hubungan baik ini terus terjaga, tidak hanya dalam konteks program, tetapi juga menjadi ikatan kekeluargaan yang saling mendukung dan saling merindukan,” katanya.
Perwakilan GCERF, Basile Ema Ebede, menjelaskan bahwa pihaknya bekerja sama dengan LPA, NPI, dan Lembidara untuk mendukung proses rehabilitasi serta penyambungan kembali hubungan sosial para mantan narapidana terorisme (napiter) dengan masyarakat.
“Kami ingin memastikan teman-teman dapat kembali terintegrasi ke dalam masyarakat, memiliki kehidupan normal, menjalankan usaha, menyekolahkan anak-anak, dan hidup berdampingan dengan masyarakat,” ujar Basile.
Menurutnya, sasaran program tidak hanya mantan napiter, tetapi juga masyarakat secara luas. Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi stigma sekaligus membangun dialog dan kohesi sosial yang lebih kuat.
“Kami ingin menciptakan ruang dialog yang lebih besar agar stigma terhadap mereka dapat berkurang. Mereka juga ingin kembali menjadi bagian dari masyarakat dan menjalani kehidupan yang normal,” jelasnya.
Basile mengaku terharu melihat kebersamaan dan kekompakan yang dibangun oleh Komunitas SAS melalui kegiatan olahraga panahan.
“Saya bahagia sekali melihat bapak dan ibu yang telah menemukan tempat yang nyaman untuk berolahraga. Kami percaya olahraga panahan ini dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat di sekitarnya,” tuturnya.
Sementara itu, perwakilan Nurani Perdamaian Indonesia (NPI) selaku lead consortium, Delsy Ronny, menegaskan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam membangun ketahanan sosial yang berkelanjutan.
“Penguatan ketahanan sosial hanya dapat terwujud melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat sipil, dan komunitas. Bersama mitra lokal kami, LPA-Lembidara di Kabupaten Bima dan SKP-HAM di Kabupaten Poso, kami berupaya memastikan setiap kegiatan mampu memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus mendorong lahirnya solusi berkelanjutan dari tingkat komunitas,” ujarnya.
Menurut Delsy, kolaborasi dengan komunitas lokal diharapkan dapat memperkuat perlindungan masyarakat, meningkatkan partisipasi warga dalam menjaga kohesi sosial, serta mendukung terwujudnya desa yang damai, inklusif, ramah perempuan, dan peduli anak.
“Program ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa kebersamaan dan dukungan dari masyarakat,” tegasnya.
Di sisi lain, Ketua LPA NTB, Sukran, menjelaskan bahwa Program STRIVE dijalankan oleh konsorsium organisasi masyarakat sipil yang terdiri dari Nurani Perdamaian Indonesia sebagai lead consortium bersama LPA-Lembidara di Kabupaten Bima.
Melalui berbagai kegiatan penguatan kapasitas, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan mekanisme perlindungan di tingkat lokal, program tersebut berupaya membangun masyarakat yang lebih inklusif, tangguh, dan damai.
“Kami membawa program baik ini agar dapat dimanfaatkan secara maksimal demi kepentingan bersama,” ujarnya.
Sukran juga mengungkapkan bahwa selama menjalankan program tersebut, pihaknya merasakan suasana yang nyaman dan penuh kekeluargaan bersama masyarakat dampingan.
“Kami sangat nyaman di sini karena sudah menganggap satu sama lain sebagai keluarga,” tutupnya.(Red).
