![]() |
| Koleksi museum NTB |
Mataram, (Beritantb.com) – Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) terus memperkuat transformasi menuju museum tematik sebagai strategi meningkatkan daya tarik wisata sekaligus memperkokoh posisinya sebagai salah satu destinasi wisata edukasi unggulan di Pulau Lombok.
Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, mengatakan pengembangan museum tematik diharapkan mampu menghadirkan pengalaman yang lebih menarik bagi pengunjung, sekaligus mempertegas fungsi museum sebagai pusat edukasi, pelestarian sejarah, dan wisata budaya.
"Mudah-mudahan dengan museum tematik bisa menguatkan lagi posisi kami, sehingga betul-betul menjadi destinasi unggulan. Sekarang tingkat kunjungan sudah tinggi," ujar Ahmad Nuralam di Mataram, Sabtu (18/07/2026).
Saat ini, Museum NTB tengah menyiapkan pembangunan museum tematik yang mengangkat sejarah letusan Gunung Tambora dan Gunung Samalas. Konsep tersebut dirancang untuk memperkaya destinasi wisata edukasi budaya sekaligus meningkatkan literasi masyarakat mengenai kebencanaan geologi.
Berdasarkan dokumen Detail Engineering Design (DED) yang telah disusun, museum tematik itu akan dibangun di atas lahan seluas 2.390 meter persegi dengan bangunan tiga lantai.
Museum ini nantinya tidak hanya menampilkan artefak terkait letusan Gunung Tambora dan Gunung Samalas yang pernah mengubah iklim dunia, tetapi juga dilengkapi ruang perpustakaan untuk penyimpanan naskah-naskah kuno serta ruang pameran digital berbasis teknologi imersif.
Ahmad Nuralam menjelaskan, pengembangan museum tematik juga dibarengi dengan pembenahan sarana dan prasarana pendukung, terutama perawatan koleksi serta peningkatan infrastruktur museum yang hingga kini masih menjadi tantangan utama.
Menurutnya, konsep tematik akan memberikan pengalaman berkunjung yang lebih interaktif dan edukatif sehingga mampu menarik minat wisatawan dari berbagai kalangan.
Ia juga mengungkapkan adanya perubahan pola kunjungan wisatawan ke Museum NTB. Jika sebelumnya lonjakan pengunjung terjadi sebelum libur sekolah, kini justru meningkat saat musim liburan.
"Tren kunjungan wisatawan ke museum saat ini terjadi pergeseran. Dulu ramai sebelum libur sekolah, sekarang justru ramai ketika musim liburan," katanya.
Tingginya minat masyarakat tersebut, lanjutnya, menunjukkan adanya perubahan persepsi terhadap museum. Museum kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai tempat menyimpan benda-benda bersejarah, tetapi juga menjadi destinasi rekreasi yang edukatif dan menarik bagi keluarga maupun pelajar.
Selain itu, Ahmad Nuralam berharap penerapan Peraturan Daerah (Perda) baru mengenai retribusi dapat mendukung peningkatan pelayanan dan pengembangan Museum NTB.
Dalam usulan tersebut, tarif masuk direncanakan menjadi Rp5.000 untuk pelajar, Rp10.000 bagi wisatawan domestik, dan Rp30.000 untuk wisatawan mancanegara.
Saat ini, tarif masuk Museum NTB masih tergolong rendah, yakni Rp2.000 untuk pelajar, Rp5.000 bagi wisatawan domestik, dan Rp20.000 untuk wisatawan mancanegara. Tarif khusus pelajar tersebut telah diberlakukan selama lima tahun terakhir.(Red).
