Piala Dunia 2026 dan Kontestasi Menjelang Muktamar NU ke-36

Piala Dunia 2026 dan Kontestasi Menjelang Muktamar NU ke-36
Suaeb Qury


Suaeb Qury

Oleh : Wakil Sekretaris PWNU Provinsi Nusa Tenggara Barat


Mataram,(Beritantb.com) - Perhelatan akbar Piala Dunia 2026 telah usai dengan Spanyol keluar sebagai juara. Selain menghadirkan tontonan sepak bola kelas dunia, ajang tersebut juga membawa dampak ekonomi, sosial, dan budaya bagi banyak negara, termasuk Indonesia, khususnya Nusa Tenggara Barat (NTB).


Di berbagai sudut kota, masyarakat memadati lokasi-lokasi penyelenggaraan nonton bareng (nobar). Euforia Piala Dunia tidak hanya dinikmati oleh para pencinta sepak bola, tetapi juga menjadi ruang pertemuan lintas generasi, profesi, dan komunitas. Kaum muda, pegiat olahraga, seniman, aktivis, tokoh agama, hingga para pejabat turut merasakan semangat kebersamaan yang lahir dari perhelatan tersebut.


Lalu, apa kaitan Piala Dunia dengan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-36 yang akan diselenggarakan pada 27–31 Agustus 2026 di Jombang?


Secara simbolik, Piala Dunia dan Muktamar NU sama-sama menghadirkan pesan tentang persatuan. Bola dunia menjadi simbol kebersamaan umat manusia tanpa sekat bangsa, suku, maupun agama. Sementara Nahdlatul Ulama sejak awal berdirinya mengemban misi menjaga nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.


Menariknya, terdapat kesamaan angka "6" pada tahun penyelenggaraan Piala Dunia 2026 dan Muktamar NU ke-36. Tentu hal ini bukan sesuatu yang bersifat mistis, tetapi dapat dimaknai sebagai simbol momentum bagi NU untuk memperkuat perannya dalam membangun peradaban.


Nilai-nilai yang dijunjung dalam olahraga, seperti keadilan (*justice*), persamaan (*equality*), sportivitas, dan kemanusiaan (*humanity*), sejatinya sejalan dengan cita-cita perjuangan Nahdlatul Ulama yang diwariskan para muassis hingga saat ini. NU terus menjaga tradisi berpikir (*fikrah*) dan gerakan (*harakah*) dalam mengawal kehidupan keumatan dan kebangsaan.


Dalam berbagai forum diskusi di lingkungan Nahdlatul Ulama, isu-isu keumatan, kebangsaan, pendidikan, serta pemberdayaan masyarakat selalu menjadi tema utama. Menjelang Muktamar NU ke-36, momentum ini semestinya dimanfaatkan sebagai ruang konsolidasi gagasan bagi para akademisi, mahasiswa, pegiat literasi, warga Nahdliyin, dan masyarakat luas.


Semangat kebersamaan yang tercipta selama Piala Dunia dapat dipadukan dengan tradisi intelektual yang menjadi ciri khas NU. Dialog, diskusi, kajian ilmiah, hingga berbagai kegiatan kebudayaan dapat menjadi sarana membangkitkan kembali ghirah ber-NU di kalangan generasi muda, khususnya generasi milenial dan Generasi Z.


Lebih dari itu, Muktamar NU ke-36 diharapkan mampu melahirkan rekomendasi strategis terhadap berbagai persoalan umat yang berkembang saat ini. Isu-isu seperti kekerasan seksual terhadap anak, pelecehan seksual di lingkungan pendidikan, termasuk pondok pesantren, harus menjadi perhatian serius. Muktamar tidak boleh hanya menjadi ajang pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi forum ilmiah yang mampu melahirkan solusi, kebijakan, dan panduan keagamaan demi masa depan generasi bangsa.


## Muktamar NU sebagai Pesta Kebahagiaan


Sebagaimana kegembiraan para pendukung Spanyol merayakan keberhasilan tim kesayangannya menjuarai Piala Dunia, warga Nahdliyin di seluruh Indonesia juga menyambut Muktamar NU ke-36 dengan penuh antusiasme.


Perbedaan pilihan dalam sepak bola tidak menghalangi lahirnya persaudaraan. Demikian pula dalam Muktamar NU, perbedaan pandangan merupakan bagian dari tradisi demokrasi organisasi yang tetap berada dalam bingkai ukhuwah dan musyawarah.


Sepak bola memiliki daya tarik yang mampu menyatukan berbagai kalangan. Sementara itu, Muktamar NU merupakan ruang pertemuan para ulama, kiai, akademisi, cendekiawan, dan generasi muda untuk bertukar pikiran mengenai masa depan organisasi, umat, bangsa, dan kemanusiaan.


Di sinilah letak keindahan Nahdlatul Ulama. Setiap lima tahun sekali, NU menyelenggarakan muktamar sebagai forum tertinggi organisasi untuk memilih kepemimpinan baru sekaligus merumuskan pokok-pokok pikiran strategis bagi kemajuan umat dan bangsa.


Kegembiraan menjelang Muktamar NU ke-36 tampak dari antusiasme warga Nahdliyin yang datang dari berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara. Mereka dengan sukarela mendaftarkan diri sebagai peserta maupun hadir sebagai tamu dan penggembira.


Diperkirakan puluhan ribu warga Nahdliyin akan memadati Kota Jombang selama pelaksanaan muktamar. Atmosfer kebersamaan tersebut menjadi bukti bahwa Nahdlatul Ulama bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan rumah besar umat Islam Indonesia yang terus menebarkan nilai persaudaraan, moderasi, kemanusiaan, dan kebangsaan.


Pada akhirnya, jika Piala Dunia menyatukan manusia melalui olahraga, maka Muktamar NU menyatukan umat melalui ilmu, hikmah, dan persaudaraan. Keduanya mengajarkan bahwa kebersamaan adalah fondasi utama dalam membangun peradaban yang damai, adil, dan bermartabat.


Iklan