Sarawak, (BeritaNTB.com) – Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) Nusa Tenggara Barat yang juga Presiden Direktur PT Cipta Rezeki Utama, H. Edy Sopyan, melakukan kunjungan kerja ke perkebunan kelapa sawit milik Sime Darby Guthrie di Sarawak, Malaysia, Kamis (09/7/2026).
Kunjungan tersebut dimanfaatkan H. Edy untuk bertemu dan berdialog langsung dengan para Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Nusa Tenggara Barat yang bekerja di perusahaan perkebunan terbesar di Malaysia itu. Selain melihat kondisi kerja para PMI, ia juga mendengarkan pengalaman mereka selama bekerja di negeri jiran.
Salah seorang PMI asal Lembar, Kabupaten Lombok Barat, M. Rauf, mengaku telah bekerja di perkebunan sawit Sime Darby Guthrie selama kurang lebih empat tahun sebagai pemanen buah sawit. Meski hanya mengenyam pendidikan hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), Rauf mampu memperoleh penghasilan antara 4.000 hingga 5.000 ringgit Malaysia setiap bulan.
Dengan kurs saat ini, pendapatan tersebut setara dengan sekitar Rp20 juta per bulan. Penghasilan itu dinilai mampu meningkatkan taraf hidup keluarganya sekaligus menjadi bukti bahwa bekerja ke luar negeri melalui jalur resmi dapat memberikan peluang ekonomi yang lebih baik.
Pengalaman serupa juga disampaikan Ateng, warga Berambang Pelangan, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Pria yang hanya menempuh pendidikan hingga kelas III Sekolah Dasar (SD) itu mengaku menerima gaji antara 3.000 hingga 4.000 ringgit Malaysia per bulan, bergantung pada kondisi cuaca dan hasil panen.
Dari penghasilannya sebagai pekerja di perkebunan Sime Darby Guthrie Sarawak, Ateng mampu membiayai pendidikan kedua anaknya. Saat ini, satu anaknya masih duduk di bangku SMP, sementara anak lainnya telah menyelesaikan pendidikan di tingkat SMK.
Menanggapi kisah para PMI tersebut, H. Edy Sopyan mengatakan pengalaman mereka menjadi bukti bahwa bekerja di luar negeri melalui prosedur yang resmi dapat menjadi jalan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, terutama di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan di daerah.
Namun demikian, di kutip dari global FM Lombok, Ia mengingatkan agar para pekerja migran tidak hanya berorientasi pada besarnya penghasilan, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola keuangan dengan baik agar hasil jerih payah selama bekerja dapat memberikan manfaat jangka panjang.
"Jangan sia-siakan lelah selama bekerja di sini. Tidak mudah mencari uang. Manfaatkan penghasilan semaksimal mungkin, rajin menabung, dan ketika pulang ke kampung sudah memiliki modal untuk membangun usaha sehingga kehidupan keluarga bisa lebih sejahtera," ujar Edy.
Menurutnya, penghasilan yang diperoleh selama bekerja di luar negeri seharusnya menjadi modal untuk membangun kemandirian ekonomi setelah kembali ke Indonesia.
Dengan pengelolaan keuangan yang baik, para PMI tidak hanya membawa pulang tabungan, tetapi juga memiliki bekal untuk membuka usaha dan menciptakan lapangan kerja di daerah asalnya.
Edy berharap para pekerja migran asal NTB menjadikan pengalaman bekerja di luar negeri sebagai investasi masa depan, bukan sekadar mencari penghasilan sementara.
"Kami ingin para PMI pulang ke tanah air dengan membawa perubahan. Tidak hanya sukses selama bekerja di luar negeri, tetapi juga mampu membangun usaha, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya setelah kembali ke kampung halaman," tutupnya.
