UMMAT Bangun Sukarara Digital Knowledge Hub, Perkuat Pelestarian Pengetahuan Tenun Tradisional Berbasis Digital

UMMAT Bangun Sukarara Digital Knowledge Hub, Perkuat Pelestarian Pengetahuan Tenun Tradisional Berbasis Digital
FGD Universitas Muhammadiyah Mataram 


Lombok Tengah, (BeritaNTB.com) – Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) terus menunjukkan komitmennya dalam melestarikan budaya lokal melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Program BIMA. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah Focus Group Discussion (FGD) bersama kelompok penenun di Desa Sukarara, Kabupaten Lombok Tengah, yang dilanjutkan dengan dokumentasi proses pewarnaan alami serta wawancara dengan maestro tenun.


Kegiatan tersebut dipimpin oleh dosen Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi UMMAT, Hirma Susilawati, S.IIP., M.A., bersama tim pengabdian. Program ini bertujuan memperkuat pengelolaan pengetahuan (knowledge management) sebagai upaya menjaga keberlanjutan pengetahuan lokal Tenun Sukarara melalui pemanfaatan teknologi digital.


Dalam FGD, tim pengabdian dan para penenun berdiskusi untuk mengidentifikasi berbagai tantangan dalam pelestarian Tenun Sukarara. Pembahasan mencakup pentingnya mendokumentasikan teknik menenun, filosofi motif, hingga penyusunan sistem pengelolaan pengetahuan berbasis digital agar warisan budaya yang selama ini diwariskan secara lisan tidak hilang seiring berkurangnya jumlah penenun senior.


Selain itu, tim juga melakukan observasi langsung terhadap proses pewarnaan alami yang masih dipraktikkan oleh para maestro tenun. Dokumentasi dilakukan terhadap penggunaan bahan-bahan alami, tahapan pewarnaan, serta berbagai pengetahuan tradisional yang menjadi ciri khas Tenun Sukarara. Seluruh proses direkam dalam bentuk foto, video, dan wawancara sebagai bagian dari upaya mengubah pengetahuan yang selama ini tersimpan dalam pengalaman para penenun menjadi dokumentasi digital yang dapat dipelajari oleh generasi mendatang.


Hirma Susilawati menjelaskan bahwa pelestarian budaya tidak hanya sebatas menjaga hasil tenun, tetapi juga memastikan pengetahuan di balik proses pembuatannya tetap lestari.


 "Pengetahuan mengenai filosofi motif, teknik menenun, hingga pewarnaan alami perlu didokumentasikan secara sistematis agar dapat diwariskan kepada generasi muda sekaligus menjadi sumber pembelajaran yang berkelanjutan," ujarnya pada Senin,(27/07/2026).


Seluruh hasil dokumentasi tersebut nantinya akan dikembangkan menjadi **Sukarara Digital Knowledge Hub (SDKH)**, sebuah platform berbasis web yang berfungsi sebagai pusat dokumentasi pengetahuan lokal Tenun Sukarara. Platform ini akan menyajikan informasi mengenai motif tenun, filosofi, proses produksi, dokumentasi visual, katalog digital, hingga informasi produk yang dapat diakses oleh masyarakat, peneliti, wisatawan, maupun generasi muda.


Melalui pengembangan SDKH, UMMAT berharap Tenun Sukarara tidak hanya dikenal sebagai produk kerajinan khas Lombok, tetapi juga sebagai warisan pengetahuan lokal yang memiliki nilai budaya, sejarah, sekaligus nilai ekonomi.


Program ini juga diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah Tenun Sukarara melalui penyajian informasi yang lebih lengkap, terstruktur, dan mudah diakses. Dengan demikian, upaya pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan sektor ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.


Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan pemerintah desa, UMMAT optimistis digitalisasi pengetahuan ini dapat menjadi model pelestarian budaya berbasis teknologi yang berkelanjutan sekaligus memperkuat posisi Tenun Sukarara sebagai salah satu identitas budaya unggulan Kabupaten Lombok Tengah.

Iklan