Cegah Ekstremisme Sejak Bangku Sekolah, Ketua LPAD Bima Tekankan Toleransi dan Kearifan Lokal

Cegah Ekstremisme Sejak Bangku Sekolah, Ketua LPAD Bima Tekankan Toleransi dan Kearifan Lokal
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Daerah (LPAD) Kabupaten Bima, Hj. Anita, A.Md, menjadi salah satu narasumber dalam Workshop bagi Para Guru untuk Mencegah dan Melawan Ekstremisme Kekerasan (Preventing and Countering Violent Extremism/PCVE), Senin (24/8/2026).




Bima,(Beritantb.com) – Ketua  Lembaga Perlindungan Anak Daerah (LPAD) Kabupaten Bima, Hj. Anita, A.Md, menjadi salah satu narasumber dalam Workshop bagi Para Guru untuk Mencegah dan Melawan Ekstremisme Kekerasan (Preventing and Countering Violent Extremism/PCVE), Senin (24/8/2026).


Kegiatan ini untuk memperkuat pemahaman dan kapasitas guru dalam mengenali, mencegah, serta merespons potensi berkembangnya paham ekstremisme kekerasan di lingkungan pendidikan.


Guru dinilai memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan peserta didik. Selain menjalankan tugas akademik, guru juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter, menanamkan sikap toleran, serta membangun budaya damai di lingkungan sekolah.


Ketua LPAD Kabupaten Bima, Hj. Anita memberikan perspektif mengenai pentingnya penguatan nilai-nilai lokal, kebersamaan, toleransi, dan kearifan masyarakat Bima sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan sosial terhadap berbagai bentuk kekerasan dan paham ekstremisme.


Menurutnya, pencegahan ekstremisme kekerasan tidak semata-mata menjadi tanggung jawab aparat keamanan. Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat, termasuk lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, pemerintah, serta lembaga-lembaga lokal.


"Kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah konflik sekaligus memperkuat kehidupan sosial yang damai", jelasnya


Dalam konteks pendidikan, guru memiliki peran yang sangat strategis. Guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan akademik, tetapi juga menjadi figur yang dapat membantu peserta didik memahami perbedaan, menyelesaikan persoalan secara damai, serta membangun hubungan sosial yang inklusif.


Karena itu, penguatan kapasitas guru melalui workshop PCVE diharapkan tidak berhenti pada pemahaman secara konseptual, tetapi dapat diterapkan dalam proses pembelajaran dan kehidupan sekolah sehari-hari.


Nilai-nilai seperti toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, dialog, anti-kekerasan, dan penghormatan terhadap kemanusiaan dapat terus ditanamkan kepada peserta didik melalui berbagai aktivitas pendidikan.


Keikutsertaan Ketua LPAD Kabupaten Bima dalam workshop tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kearifan lokal dan kelembagaan masyarakat dapat menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan ekstremisme kekerasan.


Nilai-nilai kebersamaan yang telah hidup dan berkembang di tengah masyarakat Bima dapat dikembangkan menjadi modal sosial untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, damai, dan inklusif.


Melalui kegiatan tersebut, para guru diharapkan semakin memiliki kemampuan untuk mengenali potensi munculnya narasi kekerasan dan intoleransi di lingkungan peserta didik. Guru juga diharapkan mampu mengembangkan pendekatan pendidikan yang mendorong sikap kritis, terbuka, dan menghargai keberagaman.


Workshop PCVE ini pada akhirnya menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membangun generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, serta mampu menjadi agen perdamaian di lingkungan sekolah maupun masyarakat.


Dengan memperkuat peran guru dan memanfaatkan nilai-nilai kearifan lokal, upaya pencegahan ekstremisme kekerasan di Kabupaten Bima diharapkan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh, berkelanjutan, dan dekat dengan kehidupan peserta didik.

Iklan