![]() |
| Guru KKG SD Madapangga |
Bima,(Beritantb.com) — Matematika tidak selalu harus diajarkan melalui angka, rumus, dan buku teks. Kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat dapat menjadi sumber belajar yang menarik sekaligus membantu peserta didik memahami konsep matematika secara lebih nyata.
Semangat tersebut dihadirkan melalui Pelatihan dan Pendampingan Pengembangan Modul Ajar Etnomatematika Berbasis Deep Learning bagi Guru KKG SD Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026 yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas guru dalam menghasilkan perangkat pembelajaran yang inovatif, kontekstual, serta sesuai dengan karakteristik lingkungan dan budaya peserta didik.
Selama ini, pembelajaran matematika di sekolah dasar masih kerap dipersepsikan sebagai pembelajaran yang identik dengan angka dan rumus. Melalui pendekatan etnomatematika, guru diajak mengubah cara pandang tersebut dengan menjadikan budaya lokal sebagai pintu masuk dalam mengenalkan berbagai konsep matematika.
Pola dan motif kain tenun, bentuk bangunan tradisional, aktivitas masyarakat, pengukuran, pembagian, perbandingan hingga berbagai kegiatan sehari-hari dapat dikembangkan menjadi konteks pembelajaran.
Dengan pendekatan tersebut, peserta didik dapat menemukan bahwa matematika sebenarnya hadir dan dekat dengan kehidupan mereka.
Dalam kegiatan pelatihan, para guru mengikuti proses secara aktif melalui diskusi mengenai pemanfaatan lingkungan dan budaya lokal sebagai konteks pembelajaran matematika. Pendekatan ini diharapkan mampu menghadirkan proses belajar yang lebih dekat dengan pengalaman peserta didik.
Perkuat Pembelajaran Mendalam
Selain etnomatematika, pelatihan juga memberikan penguatan mengenai pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning.
Guru diarahkan untuk merancang pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik tidak hanya mengetahui jawaban, tetapi juga memahami konsep, menemukan hubungan, memecahkan masalah, mengomunikasikan gagasan, serta melakukan refleksi.
Dengan demikian, pembelajaran matematika diharapkan bergerak dari sekadar “mengetahui” menuju “memahami dan mampu menggunakan”.
Dalam praktiknya, guru didorong menyusun aktivitas yang membuat siswa aktif mengamati, mengeksplorasi, berdiskusi, memecahkan masalah, mempresentasikan hasil, hingga merefleksikan pengalaman belajar.
Para guru juga langsung dilibatkan dalam praktik pengembangan modul ajar. Mereka mengidentifikasi capaian pembelajaran, menentukan tujuan pembelajaran, memilih konteks budaya lokal, menyusun aktivitas peserta didik, mengembangkan soal pemecahan masalah hingga merancang asesmen.
Proses tersebut dilakukan secara kolaboratif. Guru berdiskusi dengan rekan kelompok, bertukar gagasan, kemudian mendapatkan masukan dan pendampingan dari tim pelaksana.
Modul yang dikembangkan diarahkan untuk mengintegrasikan literasi, numerasi, pemecahan masalah, aktivitas kontekstual dan refleksi sehingga dapat digunakan sebagai perangkat pembelajaran yang lebih bermakna.
Budaya Lokal Bima Jadi Sumber Belajar
Salah satu kekuatan kegiatan ini adalah upaya menghubungkan konsep matematika dengan budaya lokal Bima.
Motif dan pola kain tenun, misalnya, dapat digunakan untuk mengenalkan konsep geometri, pola, simetri maupun perbandingan. Aktivitas pembagian makanan dapat dikembangkan menjadi konteks pembelajaran pecahan.
Sementara itu, bentuk bangunan tradisional dapat dimanfaatkan untuk mempelajari bangun datar, bangun ruang dan pengukuran.
Melalui cara tersebut, budaya tidak hanya diperkenalkan sebagai warisan masyarakat, tetapi juga menjadi jembatan untuk memahami ilmu pengetahuan.
Peserta didik diharapkan dapat melihat bahwa berbagai hal yang mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari ternyata memiliki hubungan dengan konsep matematika yang dipelajari di sekolah.
KKG Didorong Menjadi Ruang Inovasi Guru
Kegiatan ini juga memiliki tujuan lebih luas, yakni memperkuat peran Kelompok Kerja Guru (KKG) sebagai komunitas belajar profesional.
KKG diharapkan tidak hanya menjadi tempat pertemuan rutin guru, tetapi berkembang menjadi ruang untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, mengembangkan perangkat pembelajaran, melakukan refleksi serta menghasilkan berbagai praktik baik.
Kolaborasi menjadi bagian penting dalam proses tersebut karena guru dapat saling memberikan masukan berdasarkan pengalaman nyata di kelas.
Dengan demikian, pengembangan modul ajar tidak dilakukan secara individual, melainkan menjadi bagian dari budaya belajar bersama di lingkungan KKG.
Setelah pelatihan, proses dilanjutkan dengan pendampingan. Guru mendapatkan bimbingan dalam menyempurnakan modul, merancang aktivitas pembelajaran, mengintegrasikan literasi dan numerasi, serta menyesuaikannya dengan karakteristik peserta didik.
Evaluasi kegiatan dilakukan melalui evaluasi proses, evaluasi produk dan refleksi bersama. Keberhasilan program tidak hanya dilihat dari kehadiran peserta, tetapi juga dari kemampuan guru menghasilkan produk dan menerapkannya dalam pembelajaran.
Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026 ini diharapkan memberikan dampak berkelanjutan bagi guru dan peserta didik.
Modul ajar yang dihasilkan tidak diharapkan berhenti sebagai dokumen pelatihan. Produk tersebut dapat terus dikembangkan, diterapkan di kelas, dievaluasi dan disempurnakan melalui kegiatan KKG.
Lebih jauh, pengalaman tersebut diharapkan menjadi praktik baik yang dapat direplikasi oleh guru sekolah dasar lainnya di Kabupaten Bima.
Pada akhirnya, kegiatan ini menegaskan bahwa melalui kreativitas guru, kearifan lokal tidak hanya menjadi sesuatu yang diwariskan, tetapi juga dapat menjadi sumber belajar untuk membentuk generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, bernalar dan memahami lingkungan di sekitarnya.
Tim pelaksana bersama guru KKG SD Kecamatan Madapangga kemudian melakukan foto bersama setelah mengikuti seluruh rangkaian Pelatihan dan Pendampingan Pengembangan Modul Ajar Etnomatematika Berbasis Deep Learning Tahun Pendanaan 2026.
