Museum NTB Edukasi Masyarakat Seteluk Rawat Koleksi Sejarah dan Budaya

Museum NTB Edukasi Masyarakat Seteluk Rawat Koleksi Sejarah dan Budaya
Museum NTB sosialisasikan perawatan koleksi 


Lombok Barat,(Beritantb.com) - Sebanyak 50 warga masyarakat Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), mengikuti sosialisasi perawatan koleksi yang digelar Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) di Kantor Camat Seteluk, Rabu (12/8/2026).


Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Museum NTB memperluas edukasi konservasi kepada masyarakat, khususnya dalam merawat benda-benda peninggalan sejarah dan budaya yang masih tersimpan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.


Kepala Seksi Pengkajian dan Perawatan Museum NTB, Aulia Rahman Adiputra, mengatakan sosialisasi ini diharapkan dapat mendorong masyarakat memiliki pengetahuan dasar mengenai perawatan koleksi sehingga pelestarian bisa dilakukan secara mandiri.


“Kami ingin masyarakat juga tahu tentang Teknik perawatan benda-benda budaya, agar nantinya mereka bisa merawat koleksi mereka secara mandiri,” kata Aulia.


Menurut Aulia, keterlibatan masyarakat menjadi penting karena tidak sedikit benda bernilai sejarah dan budaya yang hingga kini masih tersebar dan tersimpan secara turun-temurun di tengah masyarakat.


Karena itu, lanjutnya, edukasi perawatan koleksi dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk membangun kesadaran masyarakat sekaligus memperkuat upaya pelestarian warisan budaya di tingkat lokal.


“Jadi pelibatan masyarakat ini sangat penting karena masih banyak benda yang masih tersebar dan diwariskan secara turun-temurun di masyarakat”, ujarnya.


Lebih lanjut dirinya menjelaskan bahwa kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari program strategis Museum NTB, “Kotaku Museumku, Kampungku Museumku”, yang mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga, merawat, dan melestarikan benda-benda sejarah serta budaya yang ada di lingkungannya.


“Program ini juga diarahkan untuk mendorong terbentuknya museum desa. Karena dengan adanya museum desa, benda-benda dari masyarakat ini dapat dihimpun, didokumentasikan, dirawat, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya secara lebih sistematis”, pungkasnya.


Dalam sosialisasi tersebut, masyarakat membawakan sejumlah koleksi sebagai bahan praktik. Di antaranya dulang, pego, satu set pekinangan, serta beberapa buah nare yang seluruhnya berbahan kuningan.


Pamong Budaya Museum NTB, Bunyamin, menjelaskan setiap material koleksi membutuhkan cara perawatan yang berbeda. Karena itu, masyarakat perlu memahami karakteristik bahan, cara membersihkan, hingga penyimpanan yang tepat agar benda tidak cepat rusak.


“Seperti benda yang berkarekteristik kuningan, dibersihkan dengan air asam dan jeruk. Intinya lain bahan lain obat, sarana konservasi juga lain", lanjutnya. 


Sementara itu, salah seorang warga Seteluk, Ibrahim Misbah, mengapresiasi kegiatan sosialisasi perawatan koleksi. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis yang bermanfaat bagi masyarakat, terutama dalam memahami teknik perawatan benda-benda peninggalan sejarah dan budaya.


“Saya sangat puas, karena banyak hal yang bisa saya pelajari, termasuk teknik perawatan.”, tutrnya.


Selain memberikan pengetahuan mengenai perawatan koleksi, Ibrahim menilai kegiatan tersebut turut mendorong kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap pelestarian warisan budaya dan situs-situs sejarah yang ada di wilayah Seteluk.


Salah satu yang menjadi perhatian, kata dia, adalah Makam Seran yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat setempat.


“Jadi kami sangat respek, bahwa kami akan jadikan Makam Seran itu sebagai cagar budaya”, ucapnya.(Red).

Iklan