![]() |
| Kegiatan koordinasi |
Bima,(Beritantb.com) — Program STRIVE (Strengthen Rehabilitation-Reintegration Program & Improve Social Cohesion Against Violent Extremism) terus memperkuat proses reintegrasi berbasis komunitas bagi mantan narapidana terorisme (eks napiter) di Kabupaten Bima.
Upaya tersebut dilakukan melalui Pertemuan Koordinasi Mengevaluasi Reintegrasi Berbasis Komunitas di Bima yang melibatkan tiga desa dampingan, yakni Desa Kananga, Desa Rato, dan Desa Tumpu.
Koordinator Program STRIVE, Ruli Ardiansyah, mengatakan program pendampingan terhadap eks napiter di Bima telah berjalan lebih dari satu tahun. Selama pelaksanaannya, program tidak hanya berfokus pada pendampingan sosial, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi melalui penguatan kewirausahaan.
“Program ini sudah berjalan setahun lebih dalam mendampingi eks napiter di Bima. Total yang sudah kita perkuat melalui program kewirausahaan sebanyak 51 orang, dan ada lagi beberapa orang yang baru di rangkul,” ujar Ruli pada Sabtu,(22/08/2026).
Menurutnya, pertemuan koordinasi tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi sejauh mana proses reintegrasi berjalan, terutama dalam membangun hubungan yang lebih erat antara para penerima manfaat dengan masyarakat di lingkungan tempat tinggal mereka.
Ruli menjelaskan, keberhasilan reintegrasi tidak cukup hanya diukur dari kedekatan dengan komunitas atau sesama penerima program. Lebih dari itu, mereka diharapkan dapat terlibat aktif dalam kehidupan sosial dan kegiatan pembangunan yang dilaksanakan pemerintah desa.
“Tujuan dari kegiatan ini bagaimana Toga-toma bisa merangkul mereka untuk terlibat setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah desa. Sehingga mereka juga dikenal di tengah masyarakat, bukan hanya di kalangan komunitas mereka saja, melainkan di lingkungan masyarakat mereka tinggal,” katanya.
Ia menambahkan, setelah proses pendampingan dilakukan secara intensif, tantangan berikutnya adalah melihat sejauh mana hubungan sosial para penerima manfaat telah terbangun dengan masyarakat di sekitarnya.
“Kalau kita sudah sangat dekat dengan mereka, yang kita harapkan saat ini sejauh mana kedekatan mereka dengan masyarakatnya sendiri,” jelasnya.
Ruli berharap para peserta dampingan LPA NTB ke depan mampu semakin mandiri, baik secara ekonomi maupun sosial, sehingga dapat berkontribusi positif dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kita berharap teman-teman yang didampingi oleh LPA NTB ini bisa mandiri,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Rato Ir Ahmadi menyambut baik pelaksanaan program STRIVE dan pendampingan yang dilakukan LPA NTB. Menurutnya, program tersebut memberikan manfaat bagi pemerintah desa dalam mendukung proses reintegrasi eks napiter di tengah masyarakat.
“Program ini sangat luar biasa bagi kita, khususnya pemerintah desa dalam mendampingi eks napiter,” katanya.
Pemerintah Desa Rato, lanjutnya, akan berupaya menggali berbagai langkah yang masih diperlukan untuk memperkuat proses pendampingan dan pemberdayaan masyarakat.
“Kita akan mencoba menggali lagi hal-hal yang perlu kita lakukan. Saya sangat menyambut baik program yang dilakukan oleh LPA NTB,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan koordinasi dan evaluasi tersebut dapat menghasilkan berbagai langkah positif yang bisa diterapkan di tingkat desa.
“Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan ini kita bisa mengambil hal-hal yang baik demi keberlangsungan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di Desa Rato,” pungkasnya.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan sosial yang inklusif, sekaligus memastikan proses reintegrasi berjalan secara berkelanjutan dengan melibatkan pemerintah desa, tokoh masyarakat, komunitas, dan masyarakat secara luas.(Red).
