Mataram,(Beritantb.com) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menegaskan proses rekonstruksi Desa Adat Sade, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, pascakebakaran tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Keaslian budaya, arsitektur tradisional, sejarah, serta identitas masyarakat Sasak harus menjadi bagian utama dalam proses pemulihan.
Desa Adat Sade mulai berbenah setelah kebakaran melanda kawasan tersebut pada Sabtu (22/8). Pemerintah daerah kini menyiapkan sejumlah langkah rekonstruksi, termasuk upaya mengembalikan karakter budaya dan tata ruang kawasan adat tersebut.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal saat mengunjungi Desa Adat Sade pada Rabu (26/8) menekankan bahwa penanganan pascakebakaran harus dilakukan secara berbeda dibandingkan dengan penanganan permukiman biasa.
Menurutnya, Sade bukan sekadar kawasan permukiman, tetapi merupakan situs budaya yang menyimpan sejarah, arsitektur tradisional, tata ruang, serta kehidupan masyarakat Sasak yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Rumah-rumah yang terbakar memang harus kembali berdiri, tetapi sejarah, arsitektur, ruang hidup, dan identitas budaya yang menjadikan Sade sebagai Sade tidak boleh ikut hilang,” kata Iqbal, dikutip dari Antara.
Ia menegaskan rekonstruksi harus mengembalikan kawasan tersebut sedekat mungkin dengan bentuk aslinya. Karena itu, pemerintah diminta tidak terburu-buru menentukan desain pembangunan maupun skema pembiayaan sebelum konsep rekonstruksi disepakati bersama masyarakat adat.
“Ini bukan sekadar kebakaran biasa. Ini kebakaran yang terjadi terhadap situs sejarah yang penuh budaya. Sehingga rekonstruksinya bukan membangun rumah layak huni, tetapi membangun kembali situs sejarah sedekat mungkin dengan bentuk aslinya,” tegasnya.
Iqbal juga menempatkan masyarakat adat sebagai subjek utama dalam proses pemulihan. Pemerintah, kata dia, berperan mendampingi, memfasilitasi, serta memperkuat kapasitas masyarakat tanpa mengambil alih keputusan mengenai masa depan Desa Adat Sade.
“Yang punya desa ini adalah masyarakat, masyarakat adat yang ada di sini sehingga kita perlu mengajak mereka bicara dan memutuskan bersama apa yang harus kita lakukan,” ujarnya.
Dari hasil dialog antara pemerintah daerah dan masyarakat, muncul kesepahaman awal bahwa rekonstruksi Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat. Warga tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat, tetapi dilibatkan sejak penyusunan konsep hingga pelaksanaan pembangunan.
Prinsip utama rekonstruksi adalah mengembalikan Sade sedekat mungkin dengan bentuk dan karakter aslinya. Namun, aspek keselamatan dan mitigasi bencana juga perlu diperkuat tanpa menghilangkan identitas kawasan.
Iqbal mencontohkan perlunya penyediaan hidran, alat pemadam api ringan (APAR), sistem sirkulasi, serta akses yang memadai untuk mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran kembali.
“Kita kembalikan sedekat mungkin dengan aslinya, tetapi dalam versi yang lebih baik. Kita harus memikirkan hidran, APAR, sistem sirkulasi dan akses, sehingga apabila terjadi kebakaran, penanganannya dapat dilakukan lebih cepat dan efektif,” jelasnya.
Pemerintah juga membuka ruang pembahasan mengenai penataan kawasan secara lebih komprehensif, termasuk kemungkinan pengaturan ruang hidup masyarakat di luar kawasan inti adat. Namun, Iqbal menegaskan seluruh opsi tersebut masih sebatas wacana dan harus terlebih dahulu dibicarakan bersama masyarakat adat.
Ia meminta kawasan bekas kebakaran untuk sementara diamankan karena masih terdapat material yang berpotensi membahayakan warga maupun relawan. Sementara itu, bantuan masyarakat diharapkan disalurkan melalui posko dan mekanisme yang telah disiapkan agar pendistribusiannya tertib dan sesuai kebutuhan.
“Sade bukan lagi hanya milik warga yang tinggal di sini. Sade adalah milik NTB, bahkan bagian dari warisan Indonesia,” imbuhnya.
Iqbal juga mengingatkan agar proses pemulihan tidak dilakukan secara tergesa-gesa hanya demi mengejar agenda pariwisata maupun berbagai kegiatan besar di NTB. Menurutnya, kecepatan pemulihan tetap penting, tetapi tidak boleh mengorbankan keaslian dan nilai sejarah Desa Adat Sade.
“Kesepakatannya kita tentukan dulu arahnya. Jangan terburu-buru membangun. Setelah arah rekonstruksinya jelas dan disepakati masyarakat, baru kita pikirkan bersama dari mana sumber pembiayaannya,” katanya.
Museum Sade Disiapkan untuk Menjaga Artefak dan Memori Kebakaran
Selain rekonstruksi kawasan, pemerintah juga mulai membahas wacana pembangunan Museum Sade. Museum tersebut nantinya diharapkan menjadi tempat penyimpanan artefak budaya yang berhasil diselamatkan dari sisa kebakaran sekaligus ruang edukasi mengenai sejarah dan budaya masyarakat Sade.
Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam mengatakan pembentukan Museum Sade telah dibahas bersama Balai Pelestarian Kebudayaan dan Dinas Kebudayaan NTB setelah rapat yang dipimpin langsung Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal.
“Salah satu temanya (museum desa) adalah terkait dengan kebakaran Dusun Adat Sade. Makanya, kami setelah mendapat hasil rapat yang dipimpin oleh Pak Gubernur, langsung turun berkoordinasi untuk mengamankan beberapa artefak,” ujar Nuralam saat ditemui di Mataram, Rabu.
Menurut Nuralam, pihaknya telah mengumpulkan sejumlah benda dari sisa puing kebakaran. Di antaranya bagian peralatan tenun yang terbakar, ceret, peralatan rumah tangga, alat untuk mengayak beras, serta sisa beras dan jagung.
Pengumpulan artefak tersebut dilakukan untuk mencegah benda-benda yang memiliki nilai sejarah dan budaya ikut terbuang dalam proses pembersihan lokasi karena dianggap sebagai sampah.
Nuralam menegaskan Museum Sade nantinya tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan artefak. Museum juga diharapkan menjadi ruang untuk menjaga memori masyarakat terhadap peristiwa kebakaran yang melanda kawasan dusun adat tersebut.
“Andai kata memang dibentuk museum, maka ada satu lemari pajang atau vitrin yang menjelaskan tentang aspek kebakaran yang menghanguskan Dusun Adat Sade,” ucapnya.
Ia menambahkan, memori tentang kebakaran penting untuk disimpan sebagai bagian dari pembelajaran. Selain menjaga sejarah, dokumentasi tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat agar masyarakat semakin waspada terhadap ancaman bencana, khususnya di kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya.
Dengan demikian, rekonstruksi Desa Adat Sade diharapkan tidak hanya mengembalikan bangunan yang terbakar, tetapi juga menjaga warisan budaya, memperkuat keselamatan kawasan, serta memastikan identitas masyarakat Sasak tetap menjadi bagian utama dari wajah Sade di masa depan.(Red).
