![]() |
| Mengaji |
BIMA,(Beritantb.com) – Dahulu, selepas azan Magrib berkumandang, suasana kampung-kampung di Bima seakan memiliki irama yang khas. Anak-anak bergegas menuju masjid, musala, atau rumah guru ngaji. Sebagian membawa Al-Qur'an, sebagian lainnya menggenggam buku Iqra.
Dari berbagai sudut kampung terdengar suara anak-anak mengeja huruf demi huruf Al-Qur'an. Ada yang membaca bersama-sama, ada pula yang menunggu giliran di hadapan guru ngaji.
Pemandangan itu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bima dari generasi ke generasi.Namun, perlahan suasana tersebut mulai berubah.
Di sejumlah lingkungan, suara anak-anak mengaji selepas Magrib tidak lagi seramai dahulu. Waktu yang dulu identik dengan belajar membaca Al-Qur'an kini mulai bersaing dengan berbagai aktivitas lain. Telepon pintar, gim, media sosial, tayangan video, hingga berbagai hiburan digital semakin mudah masuk ke ruang keluarga.
Bukan berarti tradisi mengaji telah hilang sepenuhnya. Masih banyak masjid, musala, TPQ, dan rumah guru ngaji yang tetap menjalankan aktivitas tersebut. Hanya saja, dibandingkan masa lalu, kebiasaan mengaji bersama selepas Magrib mulai menghadapi tantangan yang jauh lebih besar.
Ketika Magrib Tak Lagi Identik dengan Mengaji
Bagi generasi sebelumnya, waktu selepas Magrib memiliki pola yang sederhana.
Salat Magrib, mengaji, kemudian pulang ke rumah. Setelah itu barulah anak-anak belajar atau beristirahat.
Rutinitas tersebut secara tidak langsung membentuk kedisiplinan. Anak-anak memiliki waktu khusus untuk belajar agama dan berinteraksi dengan teman sebaya.
Kini, pola tersebut perlahan berubah.
Seorang anak bisa saja duduk di rumah setelah Magrib, tetapi bukan dengan Al-Qur'an di tangan. Telepon pintar berada di hadapannya. Jari bergerak dari satu video ke video lainnya. Gim menjadi hiburan, sementara media sosial menghadirkan dunia yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu.
Di sinilah tantangan terbesar itu muncul.
Bukan semata-mata karena teknologi, tetapi karena perubahan kebiasaan.
Mengaji Bukan Sekadar Membaca Al-Qur'an
Tradisi mengaji selepas Magrib sebenarnya memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca Al-Qur'an.
Di tempat mengaji, anak-anak belajar mengenal huruf hijaiyah, membaca Al-Qur'an, menghafal doa, memahami adab, dan mengenal nilai-nilai agama.
Mereka juga belajar menghormati guru, menyayangi teman, datang tepat waktu, dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
Lebih dari itu, tempat mengaji menjadi ruang sosial bagi anak-anak.
Mereka tumbuh bersama, bermain bersama, belajar bersama, dan mengenal satu sama lain.
Karena itu, ketika budaya mengaji mulai berkurang, yang patut dipikirkan bukan hanya soal berkurangnya waktu anak membaca Al-Qur'an, tetapi juga hilangnya salah satu ruang pembentukan karakter dan interaksi sosial yang dahulu begitu kuat di tengah masyarakat.
Orang Tua dan Lingkungan Punya Peran
Di tengah perubahan zaman, keluarga menjadi benteng pertama.
Orang tua tidak cukup hanya meminta anak mengaji. Keteladanan juga menjadi penting.
Jika selepas Magrib orang tua sibuk dengan telepon genggam, sementara anak diminta membaca Al-Qur'an, tentu akan muncul kontradiksi dalam kebiasaan keluarga.
Sebaliknya, ketika orang tua mematikan televisi, menyimpan telepon, kemudian mengajak anak salat dan membaca Al-Qur'an bersama, anak akan melihat bahwa mengaji merupakan bagian dari kehidupan keluarga.
Lingkungan juga memiliki peran yang sama penting.
Masjid dan musala tidak hanya menjadi tempat salat, tetapi dapat kembali dihidupkan sebagai pusat pembelajaran anak-anak. Guru ngaji juga perlu mendapatkan perhatian dan dukungan karena mereka merupakan bagian penting dalam menjaga tradisi tersebut.
Tradisi Lama, Cara Baru
Menjaga budaya mengaji bukan berarti harus menolak perkembangan teknologi.
Justru tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai lama dapat berjalan berdampingan dengan dunia baru.
Teknologi dapat digunakan untuk memperkenalkan Al-Qur'an dengan cara yang lebih menarik. Anak-anak dapat belajar tajwid melalui media digital, menghafal surat menggunakan aplikasi, atau mengikuti konten edukasi keagamaan.
Namun, teknologi tetap tidak dapat sepenuhnya menggantikan interaksi langsung antara anak, guru, orang tua, dan lingkungan.
Anak tetap membutuhkan sosok yang membimbing, mengoreksi bacaannya, mengajarkan adab, sekaligus menjadi teladan.
Jangan Sampai Suara Itu Hilang
Bima memiliki tradisi keagamaan yang kuat. Di banyak kampung, mengaji selepas Magrib pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Kini, tradisi itu menghadapi perubahan zaman.
Pertanyaannya bukan apakah zaman harus dihentikan. Zaman tidak mungkin dihentikan.
Pertanyaannya adalah apakah masyarakat masih ingin menjaga kebiasaan baik yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Sebab, suatu hari nanti mungkin anak-anak yang sekarang tumbuh dengan telepon pintar akan menjadi orang tua.
Jika mereka tidak lagi mengenal kebiasaan mengaji selepas Magrib, maka perlahan tradisi itu bisa benar-benar hilang dari kehidupan sehari-hari.
Dan ketika suara anak-anak membaca Al-Qur'an selepas Magrib semakin jarang terdengar di kampung-kampung Bima, mungkin saat itulah kita menyadari bahwa yang sedang hilang bukan sekadar sebuah kebiasaan.
Yang sedang perlahan menghilang adalah sebuah suasana, sebuah ruang pendidikan, sebuah tradisi, dan bagian dari ingatan kolektif masyarakat Bima.
Karena itu, sebelum suara itu benar-benar sunyi, budaya mengaji selepas Magrib perlu kembali dihidupkan—bukan dengan memaksa anak-anak kembali ke masa lalu, tetapi dengan menghadirkan nilai-nilai baik tradisi tersebut ke dalam kehidupan generasi masa kini.
