PT AMMAN, Pemerintah dan LPA NTB Pulihkan Trauma 75 Anak Korban Kebakaran Sade

PT AMMAN, Pemerintah dan LPA NTB Pulihkan Trauma 75 Anak Korban Kebakaran Sade
Kegiatan trauma psikososial bagi anak korban kebakaran di Dusun Sade, Desa Rembitan, Lombok Tengah 


Lombok Tengah, (Beritantb.com) – PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) bersama Pemerintah dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar layanan pemulihan trauma psikososial bagi 75 anak korban kebakaran di Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Selasa (1/9/2026).


Kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk membantu mengembalikan rasa aman, kenyamanan dan kepercayaan diri anak-anak setelah mengalami musibah kebakaran yang menghanguskan sejumlah rumah tradisional di kawasan tersebut.


Pendekatan yang dilakukan lebih mengutamakan pemulihan kondisi psikososial anak, bukan menggali kembali pengalaman traumatis akibat kebakaran.


“Kami ingin anak-anak merasa seolah tidak ada peristiwa kebakaran. Mereka kembali ceria, kembali bermain dan siap sekolah,” ujar Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB, Sukran. 


Menurutnya, proses pemulihan tidak cukup dilakukan dalam satu kali pertemuan. Pendampingan akan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan hingga kondisi anak benar-benar pulih.


“Ini awal pertemuan. Setelah kembali ke rumah pun anak-anak akan tetap dipantau bersama para pendamping, sampai rumah mereka berdiri kembali,” tambah Sukran.


Bermain dan Menggambar


Suasana di tenda pelayanan terlihat penuh keceriaan. Para aktivis anak dan psikolog LPA NTB mengajak anak-anak mengikuti berbagai aktivitas, seperti bermain balon, menggambar serta permainan edukatif.


Kegiatan tersebut dirancang agar anak-anak dapat mengekspresikan diri secara lebih bebas sekaligus mengembalikan suasana bermain yang sebelumnya terganggu akibat bencana.


PT AMMAN juga turut memberikan dukungan dengan menyalurkan bantuan berupa perlengkapan sekolah dan bahan makanan bagi keluarga korban yang masih berada di pengungsian.


Anak-anak yang mengikuti kegiatan berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA).


Lokasi kegiatan sengaja dipilih tidak jauh dari kawasan rumah tradisional mereka yang terbakar. Hal tersebut dilakukan agar anak-anak tetap merasa dekat dengan lingkungan yang selama ini menjadi tempat tinggal dan ruang bermain mereka.


Trauma Tidak Selalu Langsung Terlihat


Fasilitator LPA NTB, Fitriatul Rahmah, menjelaskan bahwa pihaknya belum dapat memastikan tingkat trauma yang dialami anak-anak karena asesmen dan konseling secara mendalam masih diperlukan.


“Sepintas anak-anak terlihat biasa dan tertawa. Tapi kita tidak tahu apa yang mereka simpan. Karena itu perlu tindak lanjut konseling untuk mengetahui kondisi sebenarnya,” jelas Fitriatul yang akrab disapa Atul.


Ia mengatakan, pengalaman LPA NTB dalam menangani kasus serupa di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, menunjukkan bahwa kondisi psikologis anak dapat membaik setelah mendapatkan pendampingan secara konsisten.


Namun, gejala trauma tidak selalu muncul segera setelah kejadian.


“Trauma biasanya baru terlihat 1-2 minggu setelah kejadian. Apalagi kebakaran ini terjadi di malam hari. Tidak mungkin tidak ada dampak psikisnya,” katanya.


Karena itu, Atul meminta pemerintah dan berbagai pihak terkait tidak berhenti memberikan bantuan pada tahap tanggap darurat saja. Pendampingan psikososial terhadap anak harus terus dilakukan selama proses pemulihan dan pembangunan kembali rumah warga.


“Harus ada perhatian dari lintas sektor. Seperti di Sumbawa, Dinkes, Dinsos, sampai rumah sakit ikut ambil bagian. Anak-anak jangan dibiarkan tanpa perhatian,” tegasnya.


Ketegangan Orangtua Berpengaruh pada Anak


Sementara itu, psikolog LPA NTB, Elen, S.Psi., mengatakan anak-anak korban kebakaran di Sade lebih diarahkan mendapatkan pelayanan psikososial karena turut merasakan ketegangan yang dialami orang tua mereka.


Menurutnya, salah satu dampak psikologis yang mulai terlihat adalah ketegangan yang muncul akibat perubahan kondisi keluarga setelah kebakaran.


Pendapatan orang tua yang berkurang serta kesibukan mencari bantuan dan memenuhi kebutuhan keluarga di tengah kondisi pengungsian dapat memengaruhi kondisi emosional anak.


“Anak-anak tidak hanya menghadapi dampak dari peristiwa kebakaran, tetapi juga dapat merasakan tekanan dan ketegangan yang dialami orang tua,” jelasnya.


Karena itu, pemulihan anak perlu dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan keluarga dan lingkungan sekitar. Selain memastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi, dukungan psikososial juga penting agar mereka dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari, belajar dan bermain dengan nyaman.


Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, LPA NTB, tenaga psikologis, pendamping, serta masyarakat diharapkan dapat memastikan anak-anak korban kebakaran Dusun Sade tidak menghadapi masa pemulihan seorang diri.


Pendampingan berkelanjutan menjadi bagian penting agar mereka dapat kembali merasa aman, percaya diri dan tumbuh secara optimal meski baru saja melewati pengalaman bencana.(Red).

Iklan