![]() |
| Kegiatan Ngobrol Pintar (Ngopi) Bersama Hj. Mahdalena dengan ratusan pendidik keagamaan se-Kabupaten Bima. Sabtu,(24/10/2026). |
BIMA,(Beritantb.com) – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), peran guru madrasah, guru ngaji, dan pengelola Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dinilai semakin penting dalam menjaga moral dan akhlak generasi muda.
Hal itu ditegaskan Anggota DPR RI Kapoksi Komisi VIII Fraksi PKB, Hj. Mahdalena, S.S., M.M., saat menggelar kegiatan Ngobrol Pintar (Ngopi) Bersama Hj. Mahdalena dengan ratusan pendidik keagamaan se-Kabupaten Bima. Sabtu,(24/10/2026).
Kegiatan yang merupakan kolaborasi Komisi VIII DPR RI Fraksi PKB bersama Kementerian Agama dan didukung UIN Mataram tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus penguatan kapasitas para pendidik keagamaan dalam menghadapi tantangan era digital.
Dalam sambutannya, Hj. Mahdalena menekankan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan penguatan nilai moral, akhlak, dan pendidikan karakter sejak dini.
“Di era digital ini, anak-anak kita setiap hari bersentuhan dengan gadget dan AI. Kalau bukan guru madrasah, guru ngaji dan pengelola TPQ yang menjaga, siapa lagi? Kalianlah benteng terakhir moral generasi kita,” ujarnya di hadapan para peserta.
Ia mengakui, kecerdasan buatan mampu membantu manusia dalam berbagai pekerjaan, termasuk dunia pendidikan. Namun, menurutnya, teknologi tetap memiliki keterbatasan, terutama dalam hal pembentukan hati nurani dan keteladanan.
“Walaupun AI ini sangat pintar, bahkan bisa lebih pintar dari manusia, ada yang membedakan: mesin tidak memiliki hati, sedangkan manusia memiliki hati. Itulah perbedaan mendasar kita dengan AI. Hati itu yang diajarkan oleh guru-guru ngaji kita,” tegasnya.
Hj. Mahdalena juga menyoroti masih terbatasnya perhatian dan dukungan anggaran bagi TPQ serta pendidikan madrasah tingkat dasar, baik melalui APBD maupun APBN.
Karena itu, ia menyatakan komitmennya untuk memperjuangkan dukungan yang lebih konkret bagi para pendidik keagamaan, baik melalui upaya pribadi maupun jejaring legislatif di tingkat pusat.
Ia berharap kegiatan Ngopi tersebut tidak berhenti sebagai pertemuan seremonial, tetapi menjadi awal pendampingan berkelanjutan bagi guru madrasah, guru ngaji, dan pengelola TPQ.
Menurutnya, kegiatan lanjutan direncanakan pada Desember mendatang untuk memperkuat keberlanjutan program dan menjawab kebutuhan para pendidik di lapangan.
Literasi Digital Harus Berpijak pada Nilai Keagamaan
Sementara itu, perwakilan UIN Mataram, Dr. Herlin Fandi, M.Hum., menegaskan bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat teknologi. Lebih dari itu, literasi digital merupakan upaya membekali masyarakat agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan.
Menurutnya, guru madrasah dan pengelola TPQ perlu memahami perkembangan dunia digital agar mampu mendampingi anak didik menghadapi derasnya arus informasi, sekaligus mempertahankan nilai moral dan spiritual dalam proses pendidikan.
Memasuki sesi inti, Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Bima, Dr. Ikhsan, M.Pd., hadir sebagai pemateri utama dalam program Guru Madrasah Cakap Digital dengan tema “Penguatan Literasi Digital, Etika Bermedia dan Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Pembelajaran”.
Dalam pemaparannya, Dr. Ikhsan menjelaskan berbagai pemanfaatan AI yang dapat mendukung pekerjaan guru, mulai dari menyiapkan materi ajar, menyusun soal, merancang metode pembelajaran yang menarik, hingga membantu pengelolaan administrasi kelas.
Teknologi tersebut, kata dia, dapat dimanfaatkan untuk membuat rangkuman kisah para nabi, menyusun bahan ajar Al-Qur’an, serta mengembangkan media visual yang lebih menarik bagi anak-anak TPQ.
Namun, ia mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi harus tetap berada dalam koridor nilai-nilai keislaman dan tujuan pendidikan karakter.
“AI bisa membantu membuatkan soal, rangkuman kisah Nabi, atau media visual untuk anak TPQ. Tapi yang menanamkan adab, akhlak, dan keteladanan tetap guru. Teknologi hanya alat, gurulah ruhnya,” jelas Dr. Ikhsan.
Ia juga memaparkan empat pilar utama literasi digital yang perlu dipahami para pendidik, yakni Digital Skills atau kecakapan digital, Digital Culture atau budaya digital, Digital Ethics atau etika digital, serta pemanfaatan AI dalam pembelajaran.
Keempat pilar tersebut saling melengkapi untuk membangun kemampuan pendidik dalam menggunakan teknologi secara efektif, bertanggung jawab, dan sesuai dengan kebutuhan lingkungan madrasah maupun TPQ.
Selain kemampuan teknis, Dr. Ikhsan menekankan pentingnya etika bermedia di tengah maraknya informasi yang beredar melalui platform digital.
Guru diharapkan mampu menyaring informasi, mengenali berita bohong atau hoaks, serta memberikan pemahaman kepada santri dan siswa mengenai cara berinteraksi secara sehat dan bertanggung jawab di ruang digital.
Pendidik Berharap Pendampingan Berlanjut
Kegiatan tersebut ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang berlangsung penuh semangat. Para guru madrasah dan pengelola TPQ menyampaikan berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam menjalankan pendidikan keagamaan, mulai dari keterbatasan fasilitas pembelajaran hingga pengaruh penggunaan gadget terhadap anak didik.
Mereka berharap program peningkatan kapasitas dan pendampingan seperti ini dapat terus dilaksanakan agar para pendidik tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki bekal untuk membimbing generasi muda dalam menghadapi perubahan zaman.
Melalui kegiatan tersebut, pemanfaatan AI di lingkungan pendidikan keagamaan diharapkan dapat menjadi sarana pendukung pembelajaran, tanpa menggeser peran utama guru dalam menanamkan nilai-nilai keimanan, adab, akhlak, dan keteladanan.
Di tengah kemajuan teknologi yang semakin cepat, penguatan kapasitas guru dan dukungan terhadap pendidikan keagamaan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda yang cakap digital sekaligus berkarakter.(Red).
