![]() |
| Dr. Abdul Malik, S.P., M.AP., M.H |
Oleh: Dr. Abdul Malik, S.P., M.AP., M.H.
Sekertaris Deputi pengembangan strategis ekonomi kreatif Kemenekraf/Badan ekonomi kreatif RI.
Mataram,(Beritantb.com) - Mandalika sudah dikenal dunia karena sirkuitnya. Tetapi pertanyaan pentingnya sekarang: apakah Mandalika hanya akan menjadi tempat orang datang untuk menonton balapan, atau dapat menjadi tempat lahirnya kreativitas dan industri baru Indonesia?Saya melihat peluang yang kedua jauh lebih besar.Mandalika, Nusa Tenggara Barat, memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi Creative Hub Nasional Modifikasi Otomotif, sebuah pusat kreativitas, inovasi, teknologi, bisnis, komunitas, dan pariwisata otomotif Indonesia.Gagasan ini semakin relevan karena pemerintah telah memberikan landasan kebijakan yang jelas.
Melalui Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026–2045, pemerintah memperluas cakupan ekonomi kreatif dari 17 menjadi 21 subsektor. Salah satu subsektor baru tersebut adalah modifikasi otomotif, yang ditempatkan dalam klaster ekonomi kreatif berbasis desain. Ini bukan sekadar perubahan daftar subsektor.
Ini adalah perubahan cara pandang.
Modifikasi otomotif tidak lagi cukup dilihat sebagai hobi atau aktivitas mengubah tampilan kendaraan. Di dalamnya terdapat kreativitas, desain, rekayasa, teknologi, keterampilan, personalisasi, industri komponen, merek lokal, konten digital, hingga peluang ekspor.
Kementerian Ekonomi Kreatif juga menegaskan bahwa ekosistem modifikasi otomotif melibatkan banyak talenta dan pelaku usaha, mulai dari builder, desainer, teknisi, produsen komponen aftermarket, merek lokal, komunitas, media, hingga konten kreator. Artinya, subsektor ini mempunyai rantai nilai ekonomi dari hulu sampai hilir.
Di sinilah Mandalika memiliki peluang strategis.
Mandalika sudah memiliki Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika, destinasi pariwisata, infrastruktur kawasan, komunitas otomotif, serta daya tarik internasional. Modal tersebut dapat dikembangkan menjadi ekosistem baru yang menghubungkan olahraga otomotif, pariwisata dan ekonomi kreatif.
Bayangkan jika Mandalika tidak hanya menjadi tempat balapan, tetapi juga menjadi tempat lahirnya karya-karya modifikasi otomotif Indonesia.
Ada pusat desain kendaraan.
Ada ruang kreativitas para builder.
Ada pameran dan kompetisi modifikasi nasional.
Ada pusat pengembangan talenta muda.
Ada pertemuan bisnis antara modifikator dan industri.
Ada promosi produk komponen lokal.
Ada perlindungan dan komersialisasi kekayaan intelektual.
Bahkan, dapat dikembangkan agenda internasional yang mempertemukan pelaku modifikasi Indonesia dengan pasar global.
Dengan konsep seperti itu, wisatawan tidak hanya datang untuk menonton balapan.
Mereka datang untuk melihat kreativitas, membeli produk, mengikuti kegiatan, membangun jejaring bisnis, dan menikmati pengalaman wisata otomotif.
Inilah yang saya maksud dengan Creative Hub Nasional Modifikasi Otomotif.
Namun, kita jangan berhenti pada festival.
Mandalika membutuhkan ekosistem, bukan sekadar event.
Karena itu, gagasan ini perlu diterjemahkan ke dalam kajian dan peta jalan yang jelas.
Pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi NTB, pemerintah kabupaten, pengelola kawasan, dunia usaha, perguruan tinggi, asosiasi, komunitas, dan lembaga pembiayaan perlu duduk bersama.
Pengembangannya juga harus memperhatikan aspek kekayaan intelektual, standardisasi, keselamatan, legalitas kendaraan, pengembangan sumber daya manusia, pembiayaan, investasi, serta akses pasar.
Rindekraf sendiri memberikan arah bahwa penguatan ekonomi kreatif harus bertumpu pada penguatan ekosistem, talenta, inovasi, kekayaan intelektual, pembiayaan, dan pasar.
Mandalika dapat menjadi laboratorium nyata dari kebijakan tersebut.
Dari kebijakan nasional menjadi kekuatan ekonomi daerah.
Saya membayangkan suatu saat orang tidak hanya mengatakan, “Saya pernah ke Mandalika untuk menonton MotoGP.”
Tetapi juga:
“Saya datang ke Mandalika untuk melihat karya terbaik modifikasi otomotif Indonesia.”
Di situlah pariwisata bertemu ekonomi kreatif.
Di situlah olahraga bertemu desain.
Di situlah teknologi bertemu kreativitas.
Dan di situlah talenta lokal bertemu pasar global.
Karena itu, sudah saatnya kita mulai membicarakan Mandalika bukan hanya sebagai destinasi olahraga dan pariwisata, tetapi sebagai Creative Hub Nasional Modifikasi Otomotif.
Mandalika bukan hanya tentang racing. Mandalika adalah tentang creating.
Sebab, keberhasilan sebuah destinasi tidak hanya diukur dari berapa banyak orang yang datang, tetapi dari seberapa besar kreativitas berubah menjadi nilai ekonomi dan seberapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat.
Mandalika sudah memiliki panggungnya.
Sekarang saatnya mengisinya dengan kreativitas anak bangsa.
