![]() |
| Museum Negeri Nusa Tenggara Barat mulai menata tata pamer Museum Sade di Desa Rembiitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, pada 7- 8 Oktober 2026. |
Mataram,(Beritantb.com) - Museum Negeri Nusa Tenggara Barat mulai menata tata pamer Museum Sade di Desa Rembiitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, pada 7- 8 Oktober 2026. Penataan museum tersebut disiapkan untuk disajikan bersamaan dengan ajang MotoGP Mandalika 2026.
Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam mengatakan Museum Sade akan dibuka bersamaan dengan ajang MotoGP Mandalika 2026. Kehadiran museum tersebut menjadi bagian dari upaya memperlihatkan bahwa Mandalika tidak hanya memiliki daya tarik sebagai sport torism dan pariwisata, tetapi juga culture torism.
“Jadi Museum Sade ini dapat kita selesaikan tepat waktu sesuai dengan arahan Gubernur dan Ketua Satgas Pemulihan Sade, Bapak Lalu Moh. Faozal,” ujarnya. Rabu,(07/10/2026).
Menurut Nuralam Museum Sade diharapkan menjadi ruang yang dapat mempertemukan sejarah, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat Sade dengan publik yang lebih luas. Terlebih, kawasan Sade akan kembali menjadi salah satu titik perhatian wisatawan seiring penyelenggaraan MotoGP Mandalika.
“Jadi kita berharap masyarakat yang datang ke pergelaran MotoGP juga bisa menyaksikan sejarah Sade melalui museum sekaligus bernostalgia,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan mengapresiasi penataan Museum Sade yang bisa diselesaikan sebelum gelaran MotoGP Mandalika 2026. Menurutnya, Kehadiran museum tersebut merupakan momentum untuk mengembangkan pariwisata yang berbasis kekayaan sejarah dan budaya NTB.
Museum Sade mengusung tema besar “Jejak Kehidupan dan Identitas Sade” yang terbagi dalam lima subtema, yaitu Jejak Sade; Ruang Hidup dan Budaya Sade; Sade Mendunia; Ketika Api Mengubah Sade; serta Sade Bangkit dan Menyongsong Kejayaan.
Kelima subtema tersebut dirancang untuk membawa pengunjung memahami Sade secara utuh, mulai dari jejak leluhur, kehidupan masyarakat, perjalanan Sade dikenal hingga mancanegara, peristiwa kebakaran, hingga semangat masyarakat untuk bangkit.
Kurator Tata Pamer Museum Sade, Bunyamin, mengatakan konsep tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan sejarah Sade, tetapi juga menjelaskan identitas masyarakat yang tetap hidup setelah sebagian warisan fisiknya hilang akibat kebakaran.
“Kita ingin memberikan informasi kepada masyarakat, khususnya di luar Sade, tentang bagaimana kehidupan dan jejak identitasnya. Kita ketahui bersama bahwa Sade beberapa bulan lalu terbakar. Walaupun warisan benda budayanya hilang, identitasnya tetap hidup di masyarakat,” ujarnya.
Menurut Bunyamin, identitas Sade tidak hanya melekat pada benda budaya atau bangunan adat. Nilai budaya, semangat gotong royong, serta keterampilan masyarakat seperti menenun merupakan bagian dari identitas yang tetap hidup meskipun sebagian ruang dan benda fisik mengalami kerusakan akibat kebakaran.
“Jadi informasi yang kita sampaikan bukan hanya setelah terbakar, tetapi juga bagaimana Sade sebelum terbakar. Jadi masyarakat bisa melihat perjalanan Sade secara utuh,” tuturnya.
Bagi masyarakat Sade, kata Bunyamin, museum juga memiliki fungsi lebih dari sekadar ruang penyimpanan dan pameran. Museum diharapkan menjadi ruang untuk menyimpan memori bersama tentang kehidupan masyarakat sebelum kebakaran.
“Ini tentu menjadi kenangan bagi mereka dan juga menjadi semacam obat, karena mereka punya kenangan pada masa lalu sampai sebelum terbakar. Ada sedikit kebanggaan karena mereka mempunyai museum dan koleksi-koleksi tersebut semuanya milik masyarakat Sade,” pungkasnya,(Red).
