![]() |
| Kegiatan LPA NTB dengan Komunitas |
Bima, (BeritaNTB.com)– Program STRIVE melalui Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB terus mendorong penguatan kapasitas remaja di Kabupaten Bima melalui dialog edukasi tentang literasi digital dan kemampuan berpikir kritis.
Kegiatan ini melibatkan perwakilan Komunitas, Karang Taruna, serta Remaja Masjid. Dialog tersebut menjadi ruang untuk menggali aktivitas komunitas di desa-desa dampingan LPA NTB sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam pelaksanaan program STRIVE.
Koordinator Program STRIVE, Ruli Ardiansyah, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan membangun kolaborasi dengan berbagai komunitas yang telah tumbuh di tengah masyarakat, khususnya di desa dampingan LPA NTB.
Menurutnya, komunitas remaja memiliki potensi besar untuk menjadi mitra strategis dalam meningkatkan literasi digital, membangun kemampuan berpikir kritis, serta mendorong keterlibatan positif generasi muda di lingkungan masing-masing.
“Melalui kegiatan ini, kita ingin mengetahui aktivitas atau kegiatan apa saja yang dilakukan oleh komunitas di desa dampingan LPA NTB. Dengan begitu, kita bisa melihat peluang untuk berkolaborasi dan menyinergikan kegiatan tersebut dengan Program STRIVE,” ujar Ruli pada Sabtu,(17/10/2026).
Ia menjelaskan, dialog ini bukan sekadar forum edukasi, tetapi juga menjadi sarana mendengarkan pengalaman, kebutuhan, dan tantangan yang dihadapi komunitas dalam menjalankan aktivitasnya.
Dengan memahami kondisi masing-masing komunitas, LPA NTB melalui Program STRIVE berharap dapat membangun kerja sama yang sesuai dengan kebutuhan remaja dan potensi yang ada di desa.
Minim Penggerak Jadi Tantangan Pembentukan Komunitas
Dalam dialog tersebut, Ketua komunitas (SAS) Fedo mengungkapkan bahwa pembentukan komunitas umumnya berangkat dari kesamaan hobi, minat, serta respons terhadap kondisi yang terjadi di lingkungan sekitar.
Namun, menurutnya, membangun dan mempertahankan komunitas remaja saat ini bukan perkara mudah. Salah satu tantangan utama adalah minimnya sosok penggerak yang mampu menginisiasi kegiatan dan menjaga keberlangsungan aktivitas komunitas.
Padahal, hampir setiap desa memiliki kelompok remaja atau perkumpulan yang berpotensi dikembangkan menjadi komunitas yang aktif dan produktif.
“Setiap desa sebenarnya memiliki kelompok remaja. Persoalannya, terkadang tidak ada yang menjadi motor penggerak atau penggagas untuk menghidupkan kelompok tersebut,” ungkapnya.
Ia menilai, keberadaan mentor sangat dibutuhkan untuk mendampingi remaja, mengarahkan potensi mereka, serta membantu membangun komunitas yang memiliki tujuan dan kegiatan yang jelas.
Menurutnya, mentor tidak cukup hanya hadir sesekali, tetapi perlu memberikan pembinaan secara berkelanjutan agar remaja memiliki motivasi dan kemampuan untuk mengembangkan kegiatan bersama.
Selain pendampingan, pembentukan komunitas juga membutuhkan komitmen, kebersamaan, dan kesadaran dari para anggotanya untuk bergerak mencapai tujuan yang telah disepakati.
Gotong Royong Jadi Salah Satu Aktivitas Komunitas
Dalam kesempatan tersebut, turut dibahas aktivitas komunitas yang telah berjalan di lingkungan masyarakat. Salah satunya, komunitas CRASS yang memiliki kegiatan rutin berupa aksi bersih-bersih lingkungan dan gotong royong setiap hari Minggu.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk keterlibatan remaja dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus memperkuat kebersamaan dan kepedulian sosial.
Pengalaman komunitas seperti ini dinilai dapat menjadi modal awal untuk mengembangkan kegiatan yang lebih luas, termasuk edukasi literasi digital, penguatan kemampuan berpikir kritis, serta kampanye penggunaan media sosial secara bijak.
Melalui dialog tersebut, Program STRIVE bersama LPA NTB berharap potensi komunitas lokal dapat dioptimalkan sebagai ruang pembelajaran, pengembangan kreativitas, dan partisipasi positif bagi generasi muda.
Kolaborasi ini juga diharapkan mampu mendorong lahirnya lebih banyak penggerak dan mentor di tingkat desa, sehingga kelompok remaja tidak hanya terbentuk, tetapi juga memiliki kegiatan yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan memperkuat peran komunitas, remaja di Kabupaten Bima diharapkan semakin cakap memilah informasi, tidak mudah terpengaruh hoaks, mampu berpikir kritis, serta berkontribusi dalam menciptakan lingkungan sosial yang aman, inklusif, dan produktif.(Red).
