Bonus Demografi 2030 di Depan Mata, HMI Cabang Mataram: Pemuda Jangan Hanya Jadi Penonton

Bonus Demografi 2030 di Depan Mata, HMI Cabang Mataram: Pemuda Jangan Hanya Jadi Penonton
Dialog Publik HMI Cabang Mataram 


MATARAM, Beritantb.com) – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mataram melalui Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Kepemudaan (PTKP) menggelar dialog publik bertajuk “Pemuda dan Masa Depan Indonesia: Telaah Kritis Kesiapan dalam Menghadapi Bonus Demografi 2030”.


Kegiatan tersebut berlangsung di Kedai Corner, depan Kampus Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat), Jumat (30/10/2026) malam. Dialog ini menjadi ruang diskusi lintas sektor untuk membahas kesiapan generasi muda dalam menghadapi peluang sekaligus tantangan bonus demografi.


Tema tersebut diangkat karena Indonesia diproyeksikan memasuki puncak bonus demografi pada 2030, ketika sekitar 68 persen penduduk berada pada usia produktif. Kondisi ini dinilai dapat menjadi peluang besar untuk mendorong Indonesia menjadi negara maju, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan sosial apabila tidak diimbangi kesiapan sumber daya manusia (SDM), pendidikan, lapangan kerja, dan kebijakan yang tepat.


Dialog publik tersebut menghadirkan empat narasumber lintas sektor, yakni Pangdam XXX/Rinambora Mayjen TNI Edi Saputra, S.I.P., M.Han., yang diwakili Letkol Huwairi selaku Kasdim 1606, Ketua DPRD Kota Mataram Abdul Malik, S.Sos., Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTB Dr. Syamsul Hadi, M.Pd., yang diwakili Hasbi Asidik selaku Kabid SMK, serta Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) NTB Drs. H. Surya Bahari, M.M., yang diwakili Bidang KJI.


Ketua Bidang PTKP HMI Cabang Mataram, Muhammad Farhan, dalam pengantar kegiatan menegaskan bahwa pemuda harus menjadi garda terdepan dalam menentukan arah masa depan bangsa.


Menurutnya, bonus demografi tidak otomatis menjadi keuntungan bagi Indonesia apabila tidak dikelola dengan kebijakan yang tepat. Tanpa kesiapan pendidikan, lapangan pekerjaan, dan ruang partisipasi yang memadai, momentum tersebut justru berpotensi memunculkan pengangguran, ketimpangan ekonomi, hingga rendahnya daya saing generasi muda.


Ia menegaskan, Indonesia Emas tidak boleh hanya menjadi slogan pembangunan, tetapi harus diwujudkan melalui langkah nyata dan komitmen bersama.


Sebab, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi generasi muda, tetapi juga oleh keseriusan negara dalam mempersiapkan, memberdayakan, dan memberikan kepercayaan kepada pemuda.


Dalam sesi pertama, perwakilan Pangdam XXX/Rinambora, Letkol Huwairi selaku Kasdim 1606, menegaskan bahwa pemuda memiliki peran vital dalam perjalanan dan kemajuan bangsa Indonesia.


“Pemuda ialah generasi yang menjadi komponen penting dalam kemajuan bangsa Indonesia. Karena pemuda mempunyai gagasan baru, inovatif dan keberanian. Bahkan, sejarah mencatat bangsa Indonesia merdeka atas keterlibatan pemuda,” ujarnya.


Ia juga mengingatkan kembali momentum Sumpah Pemuda 1928, ketika para pemuda dan pemudi dari berbagai latar belakang menyatukan tekad untuk membangun persatuan bangsa.


Menurutnya, semangat tersebut perlu kembali dihidupkan dalam menghadapi bonus demografi 2030. Pemuda harus mampu bergandengan tangan, membangun kolaborasi, serta menjawab berbagai tantangan yang dihadapi bangsa.


Sementara itu, Ketua DPRD Kota Mataram Abdul Malik, S.Sos., memaparkan peran lembaga legislatif dalam menjalankan fungsi legislasi, pengawasan, dan anggaran yang berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.


Ia juga mengingatkan generasi muda agar mampu membaca perkembangan zaman dan jeli melihat berbagai peluang, terutama di tengah kemajuan teknologi digital.


“Pemuda mesti pintar-pintar mencari peluang, karena zaman di era digital sekarang. Semakin canggihnya zaman, semakin besar tantangan yang dihadapi,” kata Malik.


Pada kesempatan yang sama, perwakilan Kadispora NTB, Hasbi Asidik selaku Kabid SMK, menjelaskan bahwa bonus demografi merupakan kondisi ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan penduduk usia nonproduktif.


Ia menyampaikan, salah satu upaya menyiapkan SDM produktif dilakukan melalui pemberangkatan puluhan siswa SMK untuk bekerja di luar negeri dengan kisaran gaji Rp20 juta hingga Rp30 juta per bulan.


Menurutnya, generasi muda harus memiliki kemampuan membaca peluang, meningkatkan keterampilan, dan berani mengambil peran di tengah perubahan zaman.


“Di tengah tantangan zaman sekarang, pemuda dituntut untuk mencari peluang. Pemuda tinggal memilih menjadi pelaku atau menjadi korban. Jika memilih menjadi pelaku maka harus kreatif, dan jika memilih menjadi korban maka tidak akan pernah berkembang,” tegasnya.


Selanjutnya, perwakilan Kesbangpol NTB dari Bidang KJI menekankan bahwa pemuda merupakan generasi yang selalu memiliki peran penting dalam setiap fase sejarah bangsa.


Ia mengingatkan bahwa perjuangan melawan penjajahan tidak terlepas dari persatuan dan keberanian pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.


Mengutip pemikiran Sun Tzu, ia menyampaikan bahwa kemenangan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah pasukan, tetapi juga kemampuan membaca kelemahan dan memanfaatkan peluang.


“Pemuda itu bicara ide, bukan bicara berapa persentase banyak. Oleh karena itu, pemuda di era sekarang tidak bisa menyalahkan keadaan semata, melainkan harus melihat apa kemampuan dan keunggulan yang dimiliki,” ujarnya.


HMI Tekankan Tiga Poin Penting


Di akhir dialog, Ketua Umum HMI Cabang Mataram menyampaikan tiga poin penting sebagai kesimpulan kegiatan.


Pertama, bonus demografi merupakan peluang besar bagi generasi muda ketika jumlah penduduk usia produktif jauh lebih banyak dibandingkan usia nonproduktif. Momentum ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.


Kedua, dalam upaya menyongsong bonus demografi, pemuda harus ditempatkan sebagai aktor utama perubahan. Pemuda tidak boleh hanya hadir dalam seremoni pembangunan, menjadi pelengkap kegiatan pemerintahan, atau sekadar dijadikan sasaran program kepemudaan yang bersifat administratif.


Sebaliknya, pemuda harus diberikan ruang partisipasi nyata dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga evaluasi kebijakan publik.


Pemerintah juga diharapkan membangun kolaborasi strategis dengan organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan serta membuka ruang bagi kritik dan gagasan sebagai bagian dari mekanisme demokrasi yang sehat.


Pemerintah membutuhkan keberanian untuk mendengar, sementara pemuda harus memiliki tanggung jawab intelektual dalam menyampaikan kritik yang berbasis data, argumentasi, dan solusi.


Ketiga, HMI harus mengambil peran sebagai garda terdepan dalam menjawab berbagai persoalan keumatan dan kebangsaan. Organisasi mahasiswa tersebut diharapkan terus melahirkan gagasan, kader, dan gerakan intelektual yang berkontribusi terhadap terwujudnya Indonesia Emas 2045.


Melalui dialog publik ini, HMI Cabang Mataram berharap terbangun kesadaran kolektif bahwa bonus demografi bukan sekadar persoalan jumlah penduduk usia produktif, melainkan tentang kualitas manusia, kesiapan kebijakan, serta keberanian generasi muda mengambil peran dalam menentukan masa depan Indonesia.(Red).


Iklan